Senin, 06 Mei 2013

Teori Kepribadian Menurut Sigmund Freud

Teori Kepribadian, Id, Ego, Superego Menurut Sigmund Freud

Menurut teori psikoanalitik Sigmund Freud, kepribadian terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai Id, Ego, dan Superego, yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang kompleks.

1.  Id

Id adalah satu-satunya komponen kepribadian yang hadir sejak lahir atau sistem dasar kepribadian. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian.Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan  atau ketegangan.
Sebagai contoh, peningkatan rasa lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan id terpenuhi.
Dorongan-dorongan dari Id dapat dipusatkan melalui proses primer yang dapat diperoleh dengan tiga cara:
a.       Perbuatan
Seorang bayi yang sedang timbul dorongan primitifnya,misalnya menangis karena ingin menyusui ibunya. Bayi akan berhenti menangis ketika ia menemukan putting susu ibunya dan mulai menyusu.
b.      Fungsi kognitif
Yaitu kemampuan individu untuk membayangkan atau mengingat hal-hal yang memuaskan yang pernah dialami dan diperoleh. Dalam kasus ini individu akan berhayal terhadap hal-hal yang nikmat atau menyenangkan.
c.       Ekspresi dari Afek atau Emosi
Yaitu dengan memperhatikan emosi tertentu akan terjadi pengurangan terhadap dorongan-dorongan premitifnya. 
Namun, segera memuaskan kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.

2.   Ego

Ego adalah dibawa sejak lahir, tetapi berkembang seiring dengan hubungan individu dengan lingkungan. Prinsipnya realitas atau kenyataan. Untuk bisa bertahan hidup,individu tidak bisa semata-mata bertindak sekedar mengikuti impuls-impuls atau dorongan-dorongan,individu harus belajar menghadapi realitas.sebagai ilustrasi dari pernyataan ini,”seorang anak harus belajar bahwa dia tidak bisa mengambil makanan karena terdorong secara impulsif ketika dia melihat makanan”. Jika ia mengambil makanan itu dari orang yang lebih besar,maka ia akan kena pukul. Ia harus memahami realita sebelum bertindak. Bagian dari jiwa atau struktur kepribadian yang menunda impuls secara langsung dan memahami realita seperti ini disebut ego.  
Menurut Freud, ego adalah struktur kepribadian yang berurusan dengan tuntutan realita,berisi penalaran dan pemahaman yang tepat. Ego berusaha menahan tindakan sampai dia memiliki kesempatan untuk memahami realitas secara akurat,memahami apa yang sudah terjadi didalam situasi yang berupa dimasa lalu,dan membuat rencana yang realistik dimasa depan. Tujuan ego adalah menemukan cara yang realistis dalam rangka memuaskan Id.
Ego mempunyai beberapa fungsi diantaranya:
a)      Menahan menyalurkan dorongan
b)      Mengatur desakan dorongan-dorongan yang sampai pada kesdaran
c)      Mengarahkan suatu perbuatan agar mencapai tujuan yang diterima
d)     Berfikir logis
e)      Mempergunakan pengalaman emosi-emosi kecewa sebagai tanda adanya suatu yang salah,yang tidak benar,agar kelak dapat dikategorikan dengan hal lain untuk memusatkan apa yang akan dilakukan sebaik-baiknya.

3.   Super Ego

Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua  dan masyarakat - kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.

Ada dua bagian superego:

Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan. Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak sadar.

Interaksi dari Id, Ego dan superego

Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau terlalu mengganggu.
Menurut Saya, kunci pembentukan prilaku dan  kepribadian yang sehat adalah bisa menyeimbangkan antara id, ego, dan superego.


 

kata- Kata Motivasii

Kata Motivasi Hidup

Jangan mengeluh masalahmu. Jika kamu merasa bebanmu lebih BERAT daripada yg lain, itu karena Tuhan melihatmu lebih KUAT daripada yang lain.
Tuhan takkan pernah membiarkan dirimu terluka, Dia hanya ingin kamu belajar dari segala masalah. Percayalah padaNya.

Doaku pagi ini: Tuhan, beri aku kekuatan tuk bisa melalui hari ini, tuk menghadapi segala masalah yang kutahu hanya buatku dewasa.

Terkadang satu-satunya cara tuk menyelesaikan masalahmu adalah dgn membenarkan cara pandangmu, bkn masalahmu.

Mencari siapa yg salah takkan selesaikan masalah. Berdiskusi dan kerja sama, maka kamu dan dia mampu selesaikan segalanya.

Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan terbaik. Marah tidak menyelesaikan masalah, dan mengalah bukan berarti kalah.

Jangan berpikir kamu JATUH karena masalah yg diberikan Tuhan, karena sebenarnya Tuhan hanya menginginkanmu belajar BERDIRI.

Amarah adalah cara termudah membuat masalah. Bersabar adalah salah satu cara agar terhindar dari masalah.

Masalah adalah ujian pendewasaan. Jadi tidak ada alasan menyalahkan orang lain. Benahi diri sendiri dan jadi pribadi yang dewasa.

Ketika masalah datang menghampiri, itu artinya Tuhan menyayangi, bukan membenci. Tuhan hanya menguji keimanan dan kesabaran.

Sudahkah kamu tersenyum hari ini? Jangan biarkan masalah membuatmu lupa bahwa sebuah senyuman mampu meringankannya.

Tuhan melihat masalahmu, mengerti air matamu, & merasakan rasa sakitmu. Ia hanya sejauh doa-mu. -@AmandaAdriani

Selalu ada perbedaan dalam sebuah hubungan yang kadang menyebabkan masalah, tetapi juga perbedaan itu dapat menguatkan.

Seberat apapun masalah yg sedang menimpamu, tetaplah bersabar dan ikhlas. Hadapi dengan penuh tanggung jawab, pertolongan Tuhan pasti datang

Kau lbh kuat dr rasa sakitmu, lbh besar dr masalahmu, & lbh baik dr penghakiman org atasmu, selama ada Tuhan di hatimu.

Masalah terbesar pria: melupakan terlalu cepat. Masalah terbesar wanita: mengingat terlalu lama.

Jangan pernah terpuruk karena suatu masalah. Bersabar dan berdoalah, percaya, tak ada masalah yang terlalu besar bagi Tuhan.

Masalah adalah cara Tuhan tuk membuatmu dewasa, jangan lari darinya tapi hadapilah. Hanya mereka yg membuatmu bijaksana.

Ketika masalah terasa berat, cobalah tuk menghela napas panjang dan tersenyum, itu akan membersihkan pikiran dan menambah semangat.

Setiap masalah ada jalan keluarnya. Kamu mungkin tak melihatnya, namun Tuhan tahu jalan keluarnya. Yakin dan percayalah padaNya.

Masalah adalah ujian pendewasaan. Jadi tidak ada alasan untuk menyalahkan orang lain. Benahi dirisendiri dan jadi pribadi yang dewasa.

Kamu bebas memilih sikap dalam setiap masalah yang datang. Apapun pilihanmu, tetaplah menjadi dirimu sendiri.

Dibalik beratnya masalah yg dihadapi bangsa, yakinlah bahwa Tuhan tengah mempersiapkan bangsa ini menjadi bangsa besar.

Seberat apapun beban masalah yang kamu hadapi saat ini, percayalah bahwa semua itu tak pernah melebihi batas kemampuan kamu.

Ketika amarah memuncak, bersabar adalah pilihan bijak. Marah tidak menyelesaikan masalah, dan mengalah bukan berarti kalah.


Cerpennn


Cerpen Siklus Cintaku


"Jo, jangan pergi Jo … Jangan seperti ini, kita bisa selesaikan semuanya dengan kepala dingin kan? Memang apa sih salahku Jo? Kenapa tiba – tiba kamu seperti ini? Kita baru pacaran selama 5 hari dan kamu seperti ini setelah 2 tahun penantianku?" Kini air mata tak dapat lagi terbendung di pelupuk mataku. Ia tumpah dengan sendirinya, mengalir deras bagai air terjun yang tiada hentinya. Aku pun tak mampu menatap matanya. Aku hanya mampu menarik tangannya untuk menahan kepergiannya. Aku berharap ia tak meninggalkanku, tapi pada kenyataannya ia tak sedikit pun melirik ke arahku. Ia melepaskan genggaman tanganku dan pergi menjauh dariku. Aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku terhempas di atas aspal jalan. Aku tak sanggup menahan diriku.

"Rean, Rean … Hei, kamu ngelamunin apa sih? Dan kenapa kamu menangis?" ucap Melly membuyarkan lamunanku. Aku sendiri pun tak sadar setitik air mata telah menetes dari mataku. "Gak, aku gak apa – apa, lupakan aja" "Pasti kamu inget Jo lagi ya ?? Udah lah Rean, jangan diinget lagi cowok gak tahu perasaan itu. Belum tentu juga dia inget kamu. Lagipula juga udah 2 tahun kamu lewati tanpa ada dia. Kenapa masih kamu inget aja sih dia?" "Iya sih Mel, tapi tetep aja aku gak bisa lupain dia dan kejadian itu. Rasa sakit masih ada sampai sekarang. Ya walaupun itu terjadi waktu aku kelas 3 SMP dan sekarang aku udah kelas 2 SMA, tapi tetep aja, aku belum bisa hapus dia dari benakku." "Come on Rean, please deh, jangan galau terus, dia juga udah beda sekolah denganmu. Udah deh ya, daripada kamu sedih gak jelas mending sekarang kita ke Shanty dan Netty. Pasti mereka udah nungguin kita di kantin." "Oke deh …" jawabku seraya beranjak dari tempat dudukku.

Aku, seorang Reany Caroline, cewek gendut yang duduk di kelas 2 SMA YPPI – 2 Surabaya. Kata banyak teman – teman sih aku pintar dalam segala hal. Pendidikan, olahraga, pergaulan, dan kekayaan. Tapi hanya 1 hal yang membuat semua itu hancur berantakan, percintaan. Aku rasa hanya 1 hal inilah yang tak bisa kukuasai. Di saat semua teman di sekelilingku dicintai dan mencintai pasangannya masing – masing, aku seorang diri jomblowati. Cinta pertamaku aku dapat saat aku duduk di SMP YPPI – 3 dengan lelaki bernama Jonny Nugraha. 2 tahun penantianku bersamanya kulalui dengan banyak masalah dengannya. Mulai dari bantuanku untuknya agar dapat berbaikan dengan pacarnya hingga pertengkaranku dengannya yang diakibatkan kesalahpahaman. Itu semua membuahkan hasil yang cukup memuaskan.
Di akhir masa sekolah, setelah aku melewati UNAS tahun 2011, tepat tanggal 16 April, dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Aku menerimanya dan akhirnya kami berpacaran. Tapi hanya 5 hari berselang ia tiba – tiba pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas. Hatiku hancur seketika. Penantian dan ketabahanku sia – sia. Hingga kini 2 tahun telah berlalu, aku tak pernah sedetikpun melupakan hal itu. Walaupun ke – tiga sahabatku di SMA ini, Melly, Shanty, dan Netty telah membantuku untuk mencari cowok pengganti Jo, tapi itu semua percuma saja. Aku tetap saja teringat dengan kenangan masa laluku dengan Jo.

Terik matahari yang menembus jendela kamarku membuatku terbangun dari tidur lelapku. Aku pun langsung mencari hanphoneku dan mengecek pesan masuk. Aku tercengang melihat nama Jo ada di pesan masukku. Hatiku berdebar penasaran dengan apa isi dari pesan itu. Segera kubuka pesan darinya.
Sender : Jo
"Reany Caroline? Kamu masih ingat denganku?"
To : Jo
"Ya, tentu aja aku ingat kamu. Ada apa Jo?"
Sender : Jo
"Rean, aku mau tanya, apa kamu kenal dengan cewek yang bernama Shanty Rennata?"
Aku bingung, kenapa dia tiba – tiba menanyakan Shanty? Apa dia kenal dengan Shanty? Atau apa?
To : Jo
"Ya, dia sahabatku, kenapa Jo? Kamu kenal?"
Sender : Jo
"Aku cukup menyukainya …"
Seketika itu juga tubuhku terasa lemas tak berdaya. Hati ini hancur bagai kaca yang dilempari palu. Mengapa ini semua bisa terjadi? Di saat aku tersanjung dengan pesan darinya, justru ini yang ia katakan padaku? Tanganku pun tak sanggup untuk menggenggam handphone dan ia pun terlepas dari tanganku. Tubuhku terjatuh, hatiku tenggelam dalam kekelaman yang terdalam. Aku tak mampu melakukan apapun. Bipp bipp bipp … Terdengar suara penanda pesan masuk di hanphoneku dan aku pun membukanya.
Sender : Jo
"Tahun ini untuk kenaikan menuju kelas 3 aku akan pindah ke sekolahmu. Siapkan dirimu dan aku harap bantuanmu agar aku bisa berpacaran dengannya … Kamu tidak keberatan bukan? ;)"
Aku tak mampu lagi untuk berfikir. Seharusnya aku senang kalau Jonny pindah ke sekolahku. Itu artinya aku bisa berada dekat dengannya, tapi kenapa harus dengan situasi seperti ini? Kenapa Jonny harus menyukai sahabatku sendiri?
To : Jo
"Oke."
Hanya 1 kata itu yang dapat kubalas untuk pesan dari Jo …

To : Melly, Shanty, Netty
"Guys, kumpul di tempat biasa sekarang ya. Gak usah dibales, langsung kumpul aja, URGENT, thanks."
Aku pun segera menuju Cafe Rose tempat aku dengan 3 sahabatku berkumpul. Satu persatu dari mereka pun berdatangan. Setelah mereka semua berkumpul aku memberitahukan kejadian yang kualami, mengenai Jo yang menyukai Shanty dan kepindahan Jo ke sekolah kami dalam waktu dekat.
"Apa sih maksudnya sih Jo itu? Setelah kamu dibuat sakit hati sekarang dia berusaha mendekati sahabatmu sendiri? Apa perlu kita labrak aja?" "Jangan menggunakan cara seperti itu Net, percuma. Jo bukan orang yang mau melawan cewek. Dengan begitu aku pasti dinilai jelek olehnya." "Tapi Rean, dia gak bisa seperti ini. Lagipula Shanty juga gak mungkin mau dengan Jo kan?" Aku menatap mata Shanty dan aku merasa curiga dengannya. Tingkah lakunya agak aneh dan mencurigakan. Ada sebercak rasa tak nyaman merasukiku. Tapi aku tak ingin berpikiran buruk tentang sahabatku sendiri. Ah, sudahlah …
"Hoi Shan …" ucap Melly seraya meninju kecil lengan Shanty. "Emm, iya iya aku juga gak mungkin mau lah dengan Jo." "Tuh kan Rean, udah kamu tenang aja." "Oke oke, thanks ya guys."

Saat yang kutunggu telah datang. Di hari pertama tahun ajaran baru 2013 – 2014 ini aku memulai pagiku dengan mempersiapkan segala keperluan untuk MOS. "Mel, ayo kita kumpul di lapangan. Sekalian bilang ke anak – anak baru ya supaya berkumpul di lapangan." "Oke."

Aku menatap seluruh siswa – siswi yang berbaris dan alangkah terkejutnya aku saat melihat Jo ada di tengah – tengah barisan, lengkap dengan atribut seragam sekolahku. Jantungku berdegup sangat kencang. Ternyata yang dikatakan oleh Jo bahwa ia akan pindah ke sekolahku demi Shanty itu benar adanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku mencoba meredam gejolak hati ini. Aku harus kuat, aku harus bisa!!! Setelah aku memberikan sepatah dua patah kata, aku pun melanjutkan MOS dan memberi pengarahan pada anak – anak baru.

4 bulan berselang setelah masuknya Jonny di sekolah ini. Anehnya aku dan Jo layaknya orang yang tidak pernah kenal satu sama lain. Cukup miris bagiku saat aku tahu ternyata Jo sekelas dengan Shanty di XII IPS 1, Melly sekelas dengan Netty di kelas XII IPS 2, sementara aku sendiri memang terpencil sendiri di kelas XII IPA. Dan banyak gosip simpang siur yang mengatakan bahwa Shanty mengkhianatiku.
Aku tidak mau begitu saja percaya dengan apa yang orang lain katakan. Aku ingin lebih mempercayai sahabatku sendiri. Tapi bukti – bukti yang ada cenderung menunjukkan bahwa Shanty memang mengkhianatiku, apalagi memang setelah menginjak kelas XII ini aku, Melly, Shanty, dan Netty sibuk dengan aktifitas masing – masing. Jadi aku masih belum bisa memastikan kebenaran gosip itu.

"Rean, ke kantin yuk …" ajak Virnie sambil menyeringai. Aku heran, sejak kapan dia dekat denganku, sampai – sampai dia mengajakku ke kantin. Secara dulu aku, Melly, Shanty dan Netty pernah bertengkar hebat di kelas X. Tapi aku juga tak kuasa menolak. Jadi ya aku ikuti saja. "Baiklah." Sesampainya di kantin yang bersebelahan dengan lapangan, aku lihat kerumunan anak berkumpul di tepi lapangan. Aku heran ada apa. "Rean, kamu mau lihat ke lapangan?" "Iya deh Vir, aku mau lihat." "Ya udah, aku tinggal ke perpustakaan dulu ya." "Sip."
"Shan, ditengah lapangan ini, di depan semua banyak anak, aku mau kamu tahu bahwa aku mencintai kamu. Apa kamu mau menjadi pacarku?" Aku tak mampu lagi menopang tubuhku. Rasanya aku ingin pingsan saat ini juga. Aku melihat Jo menembak Shanty di depan mataku sendiri. Aku sepertinya akan menggila karena ini semua. Aku bahkan tak mampu merasakan kakiku. Lemah, tak berdaya, rapuh.
"Ya, aku mau." Dan jawaban itulah yang semakin membuatku hancur berkeping – keping. Air mata yang sedari tadi terbendung di pelupuk mataku, kini mengalir perlahan. Sesegera mungkin aku meninggalkan lapangan. Aku berlari sekuat tenaga menuju toilet. Aku tak ingin seorang pun melihat kelemahanku. Tak boleh ada seorang pun yang tahu. Apalagi statusku sebagai Ketua OSIS. Aku keluarkan semua kesedihanku di toilet dan setelah bel berdering aku pun kembali ke ruang kelas. Begitu banyak mata yang menatap ke arahku tapi aku berusaha tenang. Aku harap aku mampu menahan kesedihanku hingga sesampainya aku di rumah.

"Anak – anak, sesuai janji Ibu tanggal 28 Oktober nanti kita akan mengadakan kegiatan GHL (Gunung Hutan Laut) yang digabung dengan retreat. Kegiatan ini diadakan selama 3 hari 2 malam di PPLH Seloliman." Awalnya aku senang sekali karena ada kegiatan ini, tapi setelah mendengar lokasi tempat kegiatan, semuanya berubah. Aku pun teringat kembali dengan kenangan masa SMP yang kulewati dengan Jo. Oh sial, umpatku dalam hati. Teetttttttt. Bel tanda pulang pun berbunyi dan hari ini aku harus pulang sendirian karena papa dinas ke luar kota. Huft, sialnya hari ini …
"Hai cewek." "Eh Sony, hai juga. Ngapain kamu disini?" "Ya mau pulang dong, ini lagi nunggu bemo. Kamu sendiri?" "Sama dong, hehehe." "Pulang bareng yuk, rumahku kan sejalan sama rumahmu, nanti aku antar deh, gimana?" "Boleh …" Sejak saat itu aku mulai dekat dengan Sony. Aku tidak menyangka, selama ini aku tidak pernah memperhatikan Sony, ternyata dia baik juga.

Hari ini aku akan berangkat untuk GHL. Aku mulai memasuki bis bersama teman – temanku. 2 jam perjalanan ke PPLH Seloliman dan akhirnya kami sampai. Suasana di sini tidak berubah. Hanya saja situasinya yang berbeda. Tak sengaja aku melihat Shanty bermesraan dengan Jo. Malam harinya ada renungan malam dan aku duduk di tempat dimana dulu aku duduk berdua bersama Jo untuk renungan malam juga, tapi kini aku ditemani Sony. Aku hampir saja meneteskan air mata. Tapi aku menahannya. Jo sempat melirikku, namun aku hanya mampu menatap matanya sebelum ia kembali bermesraan dengan Shanty.

Setelah renungan malam aku berjalan – jalan dengan Sony. Kami berkeliling di tempat yang pernah aku lalui beberapa tahun yang lalu. Di tengah perjalanan aku melihat Jo dan Shanty bermesraan. Tak sengaja tatapanku dan Shanty bertemu. Percakapan mereka terdengar olehku karena jarak kami yang tak terlalu jauh. "Jo, kamu benar – benar mencintaiku?" "Iya dong Shanty ku sayang." "Aku perlu bukti." "Bukti apa?" "Cium aku …" Sepertinya Shanty sengaja melakukan ini. Aku terkejut bukan kepalang. Hatiku kembali tersayat. Luka yang belum kering di dalam hatiku ini kini kembali tergores. Seakan membuka luka lama dan bahkan menyakitinya lebih lagi.
Jo terlihat tak begitu terkejut. Aku semakin sakit hati karenanya. Tampak Jo mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Shanty. Dan jarak wajah mereka semakin mendekat. Hingga saat mereka akan berciuman tiba – tiba Sony menarik tanganku hingga aku tak sengaja berciuman dengan Sony. Aku terkejut dan aku segera melepaskan ciuman itu. Namun hatiku sudah terlampau hancur. Air mata kembali tumpah dengan derasnya dari mataku. Kepalaku serasa berputar. Air hujan pun mulai turun dari langit dan semakin lama semakin deras. Yang dapat kulakukan hanya berlari sekuat mungkin. Aku pun tak tahu aku berlari kemana. Hujan yang mengguyur tubuhku tak terasa. Aku hanya merasakan hati yang yang terlampau hancur. Dadaku terasa amat sesak hingga akhirnya aku jatuh terjerembap di akar pepohonan. Sony segera datang membopongku. Tetapi untuk berdiri saja aku tak mampu.
Air mataku tak berhenti mengalir. Aku pun jatuh ke dalam pelukan Sony. Hangatnya pelukan ini tak mampu meredam dinginnya lautan es hatiku. "Semuanya akan baik – baik aja Rean, tenanglah. Mulai saat ini aku akan menjagamu dan takkan kubiarkan orang lain menyakitimu lebih dari ini. Walaupun aku tahu hatimu masih terluka karena Jonny, tapi ketahuilah Rean, aku akan selalu berada di belakangmu mulai saat ini sampai kapanpun."

Semenjak saat itu aku selalu bersama Sony. Ia menepati janjinya dan selalu menjagaku. Aku sudah mulai bisa melupakan Jo dan tidak memperdulikannya lagi. Aku biarkan Jo menjadi bagian dari kenangan masa laluku dan membiarkan Sony menjadi masa depanku. Aku sadar bahwa masa lalu takkan pernah bisa terulang dan masa lalu itu dapat kugunakan untuk memperbaiki dan menata masa depanku hingga lebih baik dari sebelumnya. Dan akhirnya pacarku jadi sahabatku, sahabatku jadi musushku, musuhku jadi temanku, dan temanku menjadi pacarku. Siklus cinta yang memberi 1 langkah tuk mendewasakan diriku.




Karya : Jesica Febrina

cerita Lucu Nenek Cyank Cucu

Tini baru berumur dua setengah tahun, tapi cerewetnya bukan main.
Dan namanya saja anak kecil jadi kalau bicara juga ceplas ceplos (Maklum, Ibunya
dulu ngidam beo panggang ).Kadang-kadang ucapannya membuat malu ibunya seperti kalau sedang ada tamu Tini dengan santai bilang pada ibunya "Bu, Tini mau kencing" atau "Bu, Tini mau beAb .
Oleh sebab itu lah ibunya membuat istilah khusus untuk itu, yaitu kalau buang air
kecil harus bilang "Bu, Tini mau siul" dan kalau buang air besar, bilang "Bu, Tini mau nyanyi."Hal tersebut sangat diingat oleh Tini sehingga dia sendiri lupa apa kata asli dari dua hal itu.
Hal ini sudah berlanjut sampai lebih dari 2 bulan dan tidak pernah sekalipun Tini salah ucap. Dan si Ibu tidak pernah lagi dipermalukan oleh Tini di depan tamunya. Pada suatu waktu datanglah Nenek Tini dan berniat untuk menginap di rumah Tini dengan membawa oleh-oleh buah pepaya dari kampung. Namanya juga anak kecil yang sudah lama tidak ketemu sang nenek, maka Tini minta ijin pada ibunya untuk tidur bersama neneknya. Si ibu memperbolehkan sambil menasehati agar Tini tidak boleh ngompol, dan kalau sudah kepingin buang air harus bilang sama nenek supaya diantar ke kamar mandi.
Dengan gembira Tini langsung meng-iya-kan dan tidurlah si nenek dan cucunya. Mungkin karena terlalu banyak makan papaya pemberian si nenek, tengah malam Tini mulai merasakan perutnya mules. Karena ingat pesan ibu, maka Tini membangunkan neneknya yang sedang lelap tidur sambil berkata :
"Nek, nek. Tini mau nyanyi".
Dengan sabar si nenek menjawab :"Cu, ini sudah malam. Jangan nyanyi sekarang nanti tetangga pada bangun. Besok saja yaa..".
Tapi si Tini yang sudah mules berat memaksa neneknya untuk 'nyanyi' sekarang juga. Karena saking sayangnya pada si cucu, akhirnya si nenek setuju dan
katanya "Boleh nyanyi sekarang, tapi pelan-pelan aja nyanyi dikuping nenek."
wkwkwkwkwkwkwkwkwkwk


wanita

wanita itu sederhana...
wanita itu kuat.....
wanita itu penyemangat....
wanita itu mudah memaafkan.....

bukan karena ia bodoh ...
bukan karena ia lemah.....

Tetapi...

karna ia mulia...
hatinya seluas samudera....
seindah Mutiara...

maka
hargailah beliau...
cintailah mereka seperti mereka yang selalu setia mencintaimu....


Selasa, 30 April 2013

Puisi Untuk BUNDA

Ketika kami sadari
bahwa kau telah pergi
kami masih mencari
dimanakah  kau kini

ternyata kau masih disini
karena jiwa dan semangatmu
telah tersemayam dihati ini
bersatu padu dengan sukma kami

terukir kata-katamu ......
belaian kasihmu
cinta tanda muu...ketabahanmu....
kesabaranmu.....
sungguh sangat-sangat berarti
dan kau jadi kenagan nan ABADI

selamat jalan  mamah......
selamat jalan ibu....

salamat jalan bunda.....

Tiada persembahan selain do'a

Lika - Liku Cintaa

cinta tak akan berwarna tanpa canda tawa....
sayang tak akan seru tanpa cemburu
rindu tak akan indah tanpa deraian air mata
kasih tak akan sempurna tanpa kejujuran
ikatan tak akan bermakna tanpa kesetiaan
kebersamaan tak akan harmonis tanpa saling pengertian

                            ITU Lah Lika - liku cinta......

Sabtu, 27 April 2013

konseling Agama


CHAPTER 3: ETHICAL CONSIDERATIONS

The discussion of religion and spirituality's relationship to the counseling process invites
arguments for both ignoring and addressing religion and spirituality in counseling sessions on the basis of ethical considerations. Likewise, the study of professional codes of ethics for counselors often invites religious and spiritual considerations (Burke &Miranti, 1992). The codes of ethics for counselors has been set in place by a number of professional counseling organizations to make certain that every person who seeks treatment is accepted as an individual. Counseling professionals pledge to not only accept clients, but commit to increasing their understanding of what clients believe about the meaning of life, morality, and life after death, a vital and beneficial aspect of the counseling process (D'Andrea&l Sprenger, 2007).
As previously seen in the NSRIS the spiritual domain of clients' lives is not receiving an adequate level of clinical attention. Steen, Engles and Thweatt (2006) offer the explanation that many counselors may be limiting their incorporation of religion and spirituality in counseling due to various ethical considerations. Additionally, counselors may find it difficult to attend to religion and spirituality within the traditional scientist-practitioner model (McLennan, Rochow&Arthur, 2001), Tan (2003) argues that caution in addressing religion and spirituality in clinical settings is appropriate due to the dangers of abusing or misusing spirituality professionally. Others argue beyond caution and assert that religion should be discussed only with clergy and theologians because counselors who incorporate religion and spirituality into their practice risk violating the limits of their professional competence (StifoHanssen, 1999). Ethical concerns presented by Richards and Bergin (1997) include religious and professional dual relationships, assuming religious authority, forcing religious values on clients, breaking professional boundaries, practicing beyond professional competence, becoming overly involved in superstition, and treating that which is sacred to a client with little regard.     
More recently, ethical arguments have been used to support counselors addressing religion and spirituality in counseling (Morrison, Clutter, Pritchett &Demmitt, 2009). Not only does the implementation of spirituality and religion likely promote client growth and welfare,  (Steen et al., 2006) but religion and spirituality are often embedded within the issues that clients bring into the counseling office. Furthermore, counseling professionals are ethically obligated to competently deal with religion and spirituality in order to be sensitive to and respect clients (Richards & Bergin, 1999).



Standards of Competence

In 1995, the DSM-IV added "religious or spiritual problem" to its list of issues a client may bring into counseling, creating a need for counselors to have the needed skills to deal with clients suffering from religious or spiritual issues (DSM-IV, 1995). Both the AmericanCounseling Association (ACA) and the American Psychological Association (APA) formally acknowledge religion in their ethical guidelines as an issue counselors need to take into account in their practice (American Counseling Association, 1992; American Psychological Association,1992). In Section A of the 2005 ACA Code of Ethics, counselors are required to avoid all Discrimination based on religion, required to actively increase their understanding of clients with diverse cultural backgrounds, and to reflect upon how their own cultural/ethnic/racial identity has an impact on decisions in the counseling process (American Counseling Association, 1995).
The Council for Accreditation of Counseling and Related Educational Programs  (CACREP) includes religious preference as a dimension of client diversity in curricular standards under the heading of Social and Cultural Foundations. Burke et al. (1999) recognize three CACREP standards that highlight the importance of religion and spirituality in counseling. First, counselors are required by CACREP to study issues and trends in our multicultural society, which, with increasing religious diversity, includes religion and spirituality. Second, Burke and colleagues (1999) identify the CACREP standard requiring that counselors have an understanding of group dynamics. With the religious and spiritual diversity of the American population, religion and spirituality are likely topics in secular group setting. Training counselors for group counseling, requires instruction on how to deal with religious diversity within group, reactions to discussions, and how to respond to members of the group feeling a need to hold back their religious identity, development and problem solving strategies (Burke et al., 1999). Lastly, Burke et al. (1999), found a connection between religion and spirituality and the CACREP standard for career/lifestyle development. They argue that because spirituality and religion deal with how one creates meaning in one's life, spirituality and religion influence career development (Burke et al., 1999).
In 1999, the Association for Spiritual, Ethical, and Religious Values in Counseling (ASERVIC) released nine competencies that counseling professionals should be adequately trained in.
First, counselors should be skilled in their ability to explain the meanings of the words "spirituality" and "religion," including ways that the two concepts differ and overlap. Secondly, counselors are expected to describe beliefs and practices from a cultural context. Third, ASERVIC holds counselors to a high standard of sensitivity toward client, and acceptance of diverse belief systems. Fourth, counselors must be knowledgeable regarding models of religious or spiritual development across the life span. Fifth, counselors are required to demonstrate an acceptance of religious or spiritual expressions in communication. Sixth, counselors must be aware of their limits in competency and understanding, and be prepared to refer clients to appropriate sources when necessary. Seventh, counselors must assess the importance of religion to therapeutic issues. Eighth, counselors must be receptive to religious or spiritual themes in counseling. Lastly, according to clients' preferences, counselors must use religious or spiritual beliefs toward reaching goals in counseling (Shuler &Durodoye, 2007).
According to Kelly's (1994) survey of 341 accredited and non-accredited counselor education programs, 52.4% of the programs reported that spiritual and religious issues were included as a component of these courses. In another survey done by Pate and High (1995), of the 60 CACREP-accredited programs surveyed, 60% gave attention to religion and spirituality in the curriculum. Pate and High's survey also found that 84% of counselor educators believed that counselor awareness of religious beliefs is at least of some importance.

Diversity Issues

To be multiculturally competent and ethical in practice, counselors must be actively increasing their understanding of the diversity among clients with whom they work. Diversity is defined as "the condition of being different or having differences" (Grove et al., 2002, p. 663). Attending to diversity is important to the helping relationship, and a vital part of ethical practice (D'Andrea&Sprenger, 2007). Ignoring religious or spiritual issues contributes to counselor insensitivity to spiritual concerns, while knowledge about religious and spiritual issues leads to increased sensitivity, respect, understanding toward client diversity (Burke et al., 1999).
According to Bishop (1992) increasing competency in diversity issues begins with counselors increasing their awareness about their own beliefs and values. Without recognition of their own spirituality and religion, counselors are more likely to unconsciously proselytize or impose their own values on clients (Burke et al., 1999). Increasing self-awareness in the areas of religion and spirituality involves looking at the values and beliefs that were stressed from childhood, including fears, biases, prejudices, and beliefs, either approving or rejecting them, and then integrating them throughout the lifetime (McLennan, Rochow& Arthur, 2001). Counselors also should evaluate how these values affect them as a counselor, as these values influence their believed meaning of mental health, their choice of orientation, clinical decision-making, goal

BAB 3: PERTIMBANGAN ETIKA

Pembahasan agama dan hubungan spiritualitas untuk proses konseling mengundang
argumen untuk kedua mengabaikan dan mengatasi agama dan spiritualitas dalam sesi konseling atas dasar pertimbangan etis. Demikian juga, studi tentang kode etik profesi konselor sering mengajak pertimbangan agama dan spiritual (Burke & Miranti, 1992). Kode etik konselor telah ditetapkan di tempat oleh sejumlah organisasi konseling profesional untuk memastikan bahwa setiap orang yang mencari pengobatan diterima sebagai individu. Konseling profesional berjanji untuk tidak hanya menerima klien, tapi berkomitmen untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang apa yang klien yakini tentang makna kehidupan, moralitas, dan kehidupan setelah kematian, aspek penting dan bermanfaat dari proses konseling (D'Andrea & L Sprenger, 2007).
Seperti yang terlihat sebelumnya di NSRIS domain spiritual kehidupan klien tidak menerima tingkat yang memadai perhatian klinis. Steen, Engles dan Thweatt (2006) memberikan penjelasan bahwa banyak konselor dapat membatasi penggabungan mereka agama dan spiritualitas dalam konseling karena berbagai pertimbangan etis. Selain itu, konselor mungkin merasa sulit untuk menghadiri agama dan spiritualitas dalam model ilmuwan-praktisi tradisional (McLennan, Rochow & Arthur, 2001), Tan (2003) berpendapat bahwa hati-hati dalam menangani agama dan spiritualitas dalam pengaturan klinis sesuai karena bahaya menyalahgunakan atau menyalahgunakan spiritualitas profesional. Lainnya berpendapat melampaui hati-hati dan menegaskan bahwa agama harus dibahas hanya dengan pendeta dan teolog karena konselor yang menggabungkan agama dan spiritualitas dalam risiko praktek mereka melanggar batas-batas kompetensi profesional mereka (Stifo Hanssen, 1999). Keprihatinan etis yang disajikan oleh Richards dan Bergin (1997) meliputi hubungan ganda agama dan profesional, dengan asumsi otoritas keagamaan, memaksa nilai-nilai agama pada klien, melanggar batas-batas profesional, berlatih di luar kompetensi profesional, menjadi terlalu terlibat dalam takhayul, dan mengobati sesuatu yang kudus untuk klien dengan sedikit.
Baru-baru ini, argumen etika telah digunakan untuk mendukung konselor menangani agama dan spiritualitas dalam konseling (Morrison, Clutter, Pritchett &Demmitt, 2009). Tidak hanya pelaksanaan spiritualitas dan agama cenderung meningkatkan pertumbuhan klien dan kesejahteraan, (Steen et al., 2006), tetapi agama dan spiritualitas sering tertanam dalam isu-isu yang membawa klien ke kantor konseling. Selanjutnya, profesional konseling etis wajib untuk kompeten menangani agama dan spiritualitas agar sensitif dan menghormati klien (Richards & Bergin, 1999).

Standar Kompetensi

Pada tahun 1995, DSM-IV menambahkan "masalah agama atau spiritual" ke dalam daftar masalah klien bisa membawa ke konseling, menciptakan kebutuhan untuk konselor untuk memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menangani klien menderita masalah agama atau spiritual (DSM-IV , 1995). Baik Amerika Konseling Association (ACA) dan American Psychological Association (APA) resmi mengakui agama dalam pedoman etika mereka sebagai konselor masalah perlu memperhitungkan dalam praktek mereka (Amerika Konseling Association, 1992; American Psychological Association, 1992). Dalam Bagian A dari ACA Kode Etik 2005, konselor dituntut untuk menghindari semua Diskriminasi berdasarkan agama, diperlukan untuk secara aktif meningkatkan pemahaman mereka tentang klien dengan latar belakang budaya yang beragam, dan untuk merenungkan bagaimana identitas budaya / etnis / ras mereka sendiri memiliki berdampak pada keputusan dalam proses konseling (Asosiasi Konseling Amerika, 1995).
Dewan Akreditasi Konseling dan Program Pendidikan Terkait (CACREP) termasuk preferensi agama sebagai dimensi keragaman klien dalam standar kurikuler di bawah judul Yayasan Sosial dan Budaya. Burke dkk. (1999) mengakui tiga standar CACREP yang menyoroti pentingnya agama dan spiritualitas dalam konseling. Pertama, konselor diwajibkan oleh CACREP untuk mempelajari isu-isu dan tren dalam masyarakat multikultural, yang, dengan meningkatnya keragaman agama, termasuk agama dan spiritualitas. Kedua, Burke dan rekan (1999) mengidentifikasi standar CACREP mensyaratkan bahwa konselor memiliki pemahaman tentang dinamika kelompok. Dengan keragaman agama dan spiritual dari populasi Amerika, agama dan spiritualitas kemungkinan topik dalam pengaturan kelompok sekuler. Pelatihan konselor untuk konseling kelompok, memerlukan instruksi tentang bagaimana untuk menangani keragaman agama dalam kelompok, reaksi terhadap diskusi, dan bagaimana menanggapi anggota kelompok perasaan kebutuhan untuk menahan identitas keagamaan, pengembangan dan strategi pemecahan masalah (problem Burke et al ., 1999). Terakhir, Burke et al. (1999), menemukan hubungan antara agama dan spiritualitas dan standar CACREP untuk karir / pengembangan gaya hidup. Mereka berpendapat bahwa karena spiritualitas dan agama berhubungan dengan bagaimana seseorang menciptakan makna dalam kehidupan seseorang, spiritualitas dan agama pengaruh pengembangan karir (Burke et al., 1999).
Pada tahun 1999, Asosiasi Spiritual, Etika, dan Agama Nilai dalam Konseling (ASERVIC) merilis sembilan kompetensi yang profesional konseling harus cukup terlatih masukPertama, konselor harus terampil dalam kemampuan mereka untuk menjelaskan arti kata "spiritualitas" dan "agama", termasuk cara-cara yang dua konsep berbeda dan tumpang tindih. Kedua, konselor diharapkan untuk menggambarkan keyakinan dan praktik dari konteks budaya. Ketiga, ASERVIC memegang konselor untuk standar yang tinggi kepekaan terhadap klien, dan penerimaan sistem kepercayaan yang beragam. Keempat, konselor harus memiliki pengetahuan tentang model pembangunan keagamaan atau spiritual di seluruh rentang kehidupan. Kelima, konselor harus menunjukkan penerimaan ekspresi keagamaan atau spiritual dalam komunikasi. Keenam, konselor harus menyadari batas mereka dalam kompetensi dan pemahaman, dan bersiaplah untuk merujuk klien ke sumber yang tepat bila diperlukan. Ketujuh, konselor harus menilai pentingnya agama terhadap isu-isu terapeutik. Kedelapan, konselor harus menerima tema religius atau spiritual dalam konseling. Terakhir, sesuai dengan preferensi klien, konselor harus menggunakan keyakinan agama atau spiritual menuju tujuan mencapai dalam konseling (Shuler & Durodoye, 2007).
Menurut (1994) survei Kelly dari 341 program pendidikan konselor terakreditasi dan tidak terakreditasi, 52,4% dari program melaporkan bahwa isu-isu spiritual dan agama dimasukkan sebagai komponen kursus ini. Dalam survei lain yang dilakukan oleh Pate dan Tinggi (1995), dari program 60 CACREP- terakreditasi disurvei, 60% memberikan perhatian pada agama dan spiritualitas dalam kurikulum. Pate dan survei Tinggi juga menemukan bahwa 84% dari konselor pendidik percaya bahwa kesadaran konselor dari keyakinan agama setidaknya beberapa penting.



Isu keanekaragaman

Untuk menjadimulticulturallykompeten danetikadalam praktek, konselorharusaktifmeningkatkan pemahaman mereka tentangkeragamanantara kliendengan siapamereka bekerja. Keanekaragamandidefinisikan sebagai"kondisi yangberbeda ataumemilikiperbedaan" (Grove etal., 2002, hal. 663). Memperhatikankeragamanpenting untukhubunganmembantu, dan merupakan bagian pentingdaripraktek etis(D'Andrea &Sprenger, 2007). Mengabaikan masalahkeagamaan atau spiritualmemberikan kontribusi untukkonselorketidakpekaankeprihatinanspiritual, sedangkan pengetahuantentang isu-isuagama danspiritualmenyebabkan peningkatansensitivitas, rasa hormat, pemahamanterhadap keragamanklien(Burke etal., 1999).
Menurut Uskup(1992) peningkatankompetensi dalamisu-isu keragamandimulai dengankonselormeningkatkan kesadaranmereka tentangkeyakinandan nilai-nilaimereka sendiri. Tanpapengakuanspiritualitasmereka sendiridan agama, konselorlebih cenderungtidak sadarmenyebarkan agamaataumemaksakan nilai-nilaimereka sendiri padaklien (Burke etal., 1999). Meningkatkankesadaran diridi bidangagama dan spiritualitasmelibatkan melihatnilai-nilaidan keyakinanyangmenekankansejak kecil, termasuk ketakutan, bias, prasangka, dan keyakinan, baikmenyetujui atau menolakmereka, dan kemudianmengintegrasikan merekasepanjang masa(McLennan, Rochow&Arthur, 2001). Konselorjuga harusmengevaluasi bagaimananilai-nilai inimempengaruhi merekasebagai konselor, karena nilai-nilai inimempengaruhimaknanyadiyakinikesehatan mental, pilihan merekaorientasi, pengambilan keputusan klinis, tujuan












Teori Kepribadiaan Behavioristik Menurut Bandura


BAB I
A.  Latar Belakang Teori
Albert Bandura adalah salah seorang behavioris yang menambahkan aspek kognitif terhadap behaviorisme sejak tahun 1960.Sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial, salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi.
Teori Pembelajaran Sosial yang dikemukakan oleh Bandura telah memberi penekanan tentang bagaimana perilaku manusia dipengaruhi oleh persekitaran melalui peneguhan (reinforcement) dan pembelajaran peniruan (observational learning), dan cara berfikir yang kita miliki terhadap sesuatu maklumat dan juga sebaliknya, yaitu bagaimana tingkah laku kita mempengaruhi persekitaran dan menghasilkan peneguhan (reinforcement) dan peluang untuk diperhatikan oleh orang lain (observational opportunity).
Teori belajar ini juga dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang belajar dalam keadaan atau lingkungan sebenarnya. Bandura menghipotesiskan bahwa tingkah laku, lingkungan dan kejadian-kejadian internal pada pelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh atau berkaitan. menurut Albert Bandura lagi, tingkah laku sering dievaluasi, yaitu bebas dari timbal balik sehingga boleh mengubah kesan-kesan personal seseorang. Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.









BAB II
A.  Pembahasan Teori Behavioristik Menurut Albert Bandura
Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1986). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada kesan dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Jadi dalam teori pembelajaran sosial kita akan menggunakan penjelasan-penjelasan reinforcement eksternal dan penjelasan-penjelasan kognitif internal untuk memahami bagaimana kita belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar sosial, manusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipukul oleh stimulus-stimulus lingkungan.
Teori belajar sosial menekankan, bahawa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan. lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, sebagaimana yang dikutip oleh (Kardi, S., 1997: 14) bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan permodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.
Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi  lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial jenis ini. Contohnya, seorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahwa judi itu adalah tidak baik.

Bandura memiliki pendapat (asumsi) tersendiri dalam kaitannya dengan hakikat manusia dan kepribadian.Asumsinya itu adalah sebagai berikut:
1.    Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang sadar, berpikir, merasa dan mengatur tingkah lakunya sendiri.Dengan demikian manusia bukan seperti pion atau bidak yang mudah sekali dipengaruhi atau dimanipulasi oleh lingkungan. Hubungan antara manusia dengan lingkungan bersifat saling mempengaruhi satu sama lainnya.
2.    Kepribadian berkembang dalam konteks sosial, interaksi antara satu sama lainnya.Dengan demikian teori kepribadian yang tepat adalah yang mempertimbangkan konteks sosial tersebut.
Teori belajar sosial bandura tentang kepribadian didasarkan kepada formula bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil interaksi timbal balik yang terus menerus antara faktor-faktor penentu: internal (kognisi, persepsi, dan faktor lainnya yang mempengaruhi kegiatan manusia), dan eksternal (lingkungan).Proses ini disebut “reciprocal determinism”, dalam mana manusia mempengaruhi nasibnya dengan mengontrol kekuatan lingkungan, tetapi mereka juga dikontrol oleh kekuatan-kekuatan lingkungan, tetapi mereka juga dikontrol oleh kekuatan-kekuatan lingkungan tersebut.
Teori belajar sosial menempatkan “reciprocal determinism” sebagai prinsip dasar untuk menganalisis fenomena psikososial dalam berbagai tingkat yang kompleks, terentang dari perkembangan intrapersonal, tingkah laku interpersonal, fungsi interaksi organisasi sampai ke sistem sosial.
Determinisme timbal balik adalah teori yang ditetapkan oleh psikolog Albert Bandura bahwa perilaku seseorang baik pengaruh dan dipengaruhi oleh faktor pribadi dan lingkungan sosial. Bandura menerima kemungkinan perilaku individu yang dikondisikan melalui penggunaan konsekuensi. Pada saat yang sama ia menegaskan bahwa perilaku seseorang (dan faktor pribadi, seperti keterampilan atau sikap kognitif) dapat berdampak lingkungan.
keterampilan ini menetapkan hasil dalam ego bawah atau overcompensated bahwa, untuk semua tujuan kreatif terlalu kuat atau terlalu lemah untuk fokus pada hasil murni.
Sebagai contoh, determinisme timbal balik Bandura bisa terjadi ketika seorang anak bertingkah di sekolah. Anak tidak suka pergi ke sekolah, karena itu, ia bertindak di kelas. Hal ini menyebabkan guru dan administrator sekolah menyukai memiliki anak sekitar. Ketika dihadapkan dengan situasi, anak mengakui bahwa ia membenci sekolah dan rekan-rekan lain tidak seperti dia / nya. Hal ini menyebabkan anak bertindak tidak, memaksa administrator yang tidak suka memiliki dia  nya sekitar untuk menciptakan lingkungan yang lebih ketat bagi anak-anak bertubuh ini. Setiap faktor perilaku dan lingkungan bertepatan dengan anak dan sebagainya sehingga dalam pertempuran terus-menerus pada semua tiga tingkatan.
Dalam hal lain, Bandura menyetujui keyakinan dasar behaviorisme yang mempercayai bahwa kepribadian dibentuk melalui belajar.Namun dia berpendapat bahwa “conditioning” bukan proses yang mekanis, manusia menjadi partisipan yang pasif.

a.    Belajar Melalui Observasi (Observasional leraning)
Belajar  melalui observasi terjadi ketika respon organisme dipengaruhi oleh hasil observasinya terhadp orang lain, yang disebut model.Bentuk belajar ini memerlukan perhatian (attention) terhadap tingkah laku model yang diobservasi, sehingga dipahami dampak-dampaknya, dan menyimpan informasi tentang tingkah laku model itu ke dalam memori.
Beberapa model mungkin lebih berpengaruh dari model yang lainnya.Anak atau orang dewasa cenderung mengimitasi orang (model) yang dia senangi karena memiliki daya tarik tertentu.Proses imitasi ini dipengaruhi oleh adanya kesamaan antara yang mengimitasi dengan model (seperti kesamaan seks), atau karena tingkah laku model itu memberikan dampak yang positif.
Menurut teori belajar sosial, model itu memiliki dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kepribadian anak-anak belajar untuk bersikap asertif, percaya diri, atau mandiri melalui observasi kepda orang lain yang menampilkan sikap-sikap seperti itu.Orang lain yang menjadi model anak adalah orang tua, saudara, guru, atau teman.Contohnya, seorang pelajar melihat temannya dipuji atau ditegur oleh gurunya kerena perbuatannya, maka ia kemudian meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya. Bandura mengidentifikasi tiga model dasar pembelajarn observasional:
1.    Model hidup, yang melibatkan seorang individu nyata mendemostrasikan sebuah perilaku.
2.    Model instruksional verbal, yang melibatkan deskripsi atau penjelasan dari sebuah perilaku
3.    Model simbolik, yang melibatkan karakter nyata atau fiksi menampilkan perilaku dalam buku-buku, film, program televisi, atau media online.
Bandura mengemukakan bahwa penguatan eksternal dan lingkungan bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi pembelajaran dan perilaku. Dia menggambarkan penguatan intrinsik sebagai bentuk penghargaan internal, seperti rasa bangga, puas, dan sensasi dari perolehan sebuah prestasi atau pencapaian. Penekanan pada pikiran internal dan kesadaran menjadi penghubung antara teori pembelajaran dan teori perkembangan kognitif.
Adanya vocarious reinforcement yaitu mengamati model untuk mendapat suatu tingkah laku positif, memberikan informasi bahwa tingkah laku tersebut dikehendaki dan akan mendorong pengamat untuk meniru, sedangkan negatif akan menimbulkan efek yang sebaliknnya
Selanjutnya, Bandura mengemukakan apa yang disebutnnya observer attributes yaitu kemampuan seseorang untuk mengikuti atau memperhatikan secara selektif serta pengalaman masa lalu dari orang tersebut yang akan mempengaruhi model mana yang mereka ikuti dan seefektif apa mereka mengikuti model tersebut.
Berikut beberapa-beberapa Jenis-Jenis Peniruan :
a.    Peniruan langsung
Pembelajaranan langsung dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura. Pembelajaranan langsung adalah model pembelajaranan yang dirancang untuk mengajarkan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang diajarkan setahap demi setahap. Ciri khas  pembelajaranan ini adalah adanya modeling, iaitu suatu fasa di mana seseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu keterampilan itu dilakukan. Meniru tingkah laku yang ditunjukkan oleh model melalui proses perhatian. Contoh: meniru gaya penyanyi yang disanjungi.
b.    Peniruan tak langsung
Peniruan adalah melalui imaginasi atau pemerhatian secara tidak la ngsung. Contoh: meniru watak yang dibaca dalam buku, memerhati seorang guru mengajar rakannya.
c.    Peniruan gabungan.
Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabung tingkah laku yang berlainan yaitu peniruan langsung dan tidak langsung. Contoh: pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarna daripada buku yang dibacanya.
d.   Peniruan sekat laluan
Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu sahaja. contoh: Tiru fesyen pakaian di TV, tapi tidak boleh dipakai di sekolah.
e.    Peniruan tak sekat laluan
Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam apa-apa situasi. Contoh: pelajar meniru gaya berbudi bahasa gurunya.




b.    Self Efficacy
Self efficacy merupakan kunci self system, yang dimaksud self system ini bukan faktor psikis yang mengontrol tingkah laku, namun merujuk kepada struktur kognisi yang memberikan mekanisme rujukan, dan yang merancang fungsi-fungsi persepsi, evaluasi, dan regulasi tingkah laku.
Bandura meyakini bahwa “self efficacy” merupakan keyakinan diri (sikap percaya diri) terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah laku yang akan mengarahkannya kepada hasil yang diharapkan.
Self efficacy merupakan kunci self system, yaitu harapan bahwa seseorang bisa, dengan usahanya sendiri, menguasai suatu situasi dan menyempurnakan hasil yang diinginkan. Atau dengan kata lain penilaian seseorang mengenai apa yang dapat ia lakukan.

Bandura memandang penting reinforcement dalam pembentukan perilaku pada proses social learning dan memperluas definisi reinforcement, meskipun reinforcement bukan satu-satunnya penentu timbulnnya perilaku. Bandura menambahkan dua jenis reinforcement lain. Yang pertama yaitu selfreinforcement yang akan muncul membanding perilakunya dengan standar internalnya. Yang ke dua yaitu vicarious reinforcement  yang akan muncul bila individu menyaksikan orang lain mengalami konsekuensi positif atau negatif dari perilakunya, dan individu tersebut mengantisipasi konsekuensi yang sama bila ia berprilaku sama. Orang dapat berprilaku tertentu hanya dengan mengamati (modelling) saja. Bahkan belajar melalui observasi ini jauh lebih evisien dibanding belajar melalui pengalaman langsung.




Persepsi tentang “self efficacy” bersifat subjektif dan khas terhadap macam-macam hal.Walaupun persepsi tentang “self efficacy” dapat memprediksi tingkah laku secara baik, namun persepsi tersebut dipengaruhi oleh perasaan umum dari  “self efficacy” sendiri.Dapat mempengaruhi tentang mana yang harus diatasi dan bagaimana menampilkan perilaku yang lebih baik.

B.  Implikasi Teori Kepribadian Behavioristik Terhadap Bimbingan Dan Konseling
a.  Tujuan bimbingan dan konseling
Tujuan umum bimbingan dan konseling behavioristik adalah menciptakan kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya adalah seluruh perilaku itu hasil belajar, termasuk perilaku yang salah sesuai hasil belajar, maka perilaku itu dapat dihapus dari ingatan dan dapat diperbaiki.
b.  Fungsi dan peran konselor
     Konselor behavioristik harus memainkan peran aktif dan direktif dalam proses bimbingan dan konseling.Konselor behavioristik berfungsi sebagai guru, pengarah, dan seorang ahli dalam mendiagnosis perilaku yang salah dan ahli dalam menentukan prosedur perbaikan yang diharapkan yang mengarah pada perilku baru yang sesuai.
     Satu peran penting lainnya adalah konselor sebagai model bagi klien, konselor sebagai pribadi menjadi model penting bagi klien, karena klien memandang konselor sebagai seorang yang patut diteladani, klien meniru pola pikir, cara bersikap, dan perilaku konselor.







C.      Kelemahan Dan Kelebihan Teori Albert Bandura
a.    Kelemahan
Teori pembelajaran social Albert bandura sangat sesuai jika diklsifikasikan dalam teori behavioristik. Ini karena, teknik pemodelan albert bandura adalah mengenai peniruan tingkah laku dan adakalanya cara peniruan tersebut memerlukan pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru.
Selain itu juga, jika manusia belajar atau membentuk tingkah lakunya dengan hanya. melalui peniruan (modeling), sudah pasti terdapat sesetengah individu yang menggunakan teknik peniruan ini juga akan meniru tingkah laku yang negatif termasuk perlakuan yang tidak diterima dalam masyarakat.
b.      Kelebihan
Teori Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui sistem kognitif orang tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata - mata refleks atas stimulus (S-R bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.