Sabtu, 27 April 2013

Teori Kepribadiaan Behavioristik Menurut Bandura


BAB I
A.  Latar Belakang Teori
Albert Bandura adalah salah seorang behavioris yang menambahkan aspek kognitif terhadap behaviorisme sejak tahun 1960.Sangat terkenal dengan teori pembelajaran sosial, salah satu konsep dalam aliran behaviorisme yang menekankan pada komponen kognitif dari fikiran, pemahaman dan evaluasi.
Teori Pembelajaran Sosial yang dikemukakan oleh Bandura telah memberi penekanan tentang bagaimana perilaku manusia dipengaruhi oleh persekitaran melalui peneguhan (reinforcement) dan pembelajaran peniruan (observational learning), dan cara berfikir yang kita miliki terhadap sesuatu maklumat dan juga sebaliknya, yaitu bagaimana tingkah laku kita mempengaruhi persekitaran dan menghasilkan peneguhan (reinforcement) dan peluang untuk diperhatikan oleh orang lain (observational opportunity).
Teori belajar ini juga dikembangkan untuk menjelaskan bagaimana seseorang belajar dalam keadaan atau lingkungan sebenarnya. Bandura menghipotesiskan bahwa tingkah laku, lingkungan dan kejadian-kejadian internal pada pelajar yang mempengaruhi persepsi dan aksi adalah merupakan hubungan yang saling berpengaruh atau berkaitan. menurut Albert Bandura lagi, tingkah laku sering dievaluasi, yaitu bebas dari timbal balik sehingga boleh mengubah kesan-kesan personal seseorang. Pengakuan sosial yang berbeda mempengaruhi konsepsi diri individu.









BAB II
A.  Pembahasan Teori Behavioristik Menurut Albert Bandura
Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1986). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada kesan dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal. Jadi dalam teori pembelajaran sosial kita akan menggunakan penjelasan-penjelasan reinforcement eksternal dan penjelasan-penjelasan kognitif internal untuk memahami bagaimana kita belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar sosial, manusia itu tidak didorong oleh kekuatan-kekuatan dari dalam dan juga tidak dipukul oleh stimulus-stimulus lingkungan.
Teori belajar sosial menekankan, bahawa lingkungan-lingkungan yang dihadapkan pada seseorang secara kebetulan. lingkungan-lingkungan itu kerap kali dipilih dan diubah oleh orang itu melalui perilakunya sendiri. Menurut Bandura, sebagaimana yang dikutip oleh (Kardi, S., 1997: 14) bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Inti dari teori pembelajaran sosial adalah pemodelan (modelling), dan permodelan ini merupakan salah satu langkah paling penting dalam pembelajaran terpadu.
Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan. Kondisi  lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar sosial jenis ini. Contohnya, seorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahwa judi itu adalah tidak baik.

Bandura memiliki pendapat (asumsi) tersendiri dalam kaitannya dengan hakikat manusia dan kepribadian.Asumsinya itu adalah sebagai berikut:
1.    Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang sadar, berpikir, merasa dan mengatur tingkah lakunya sendiri.Dengan demikian manusia bukan seperti pion atau bidak yang mudah sekali dipengaruhi atau dimanipulasi oleh lingkungan. Hubungan antara manusia dengan lingkungan bersifat saling mempengaruhi satu sama lainnya.
2.    Kepribadian berkembang dalam konteks sosial, interaksi antara satu sama lainnya.Dengan demikian teori kepribadian yang tepat adalah yang mempertimbangkan konteks sosial tersebut.
Teori belajar sosial bandura tentang kepribadian didasarkan kepada formula bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil interaksi timbal balik yang terus menerus antara faktor-faktor penentu: internal (kognisi, persepsi, dan faktor lainnya yang mempengaruhi kegiatan manusia), dan eksternal (lingkungan).Proses ini disebut “reciprocal determinism”, dalam mana manusia mempengaruhi nasibnya dengan mengontrol kekuatan lingkungan, tetapi mereka juga dikontrol oleh kekuatan-kekuatan lingkungan, tetapi mereka juga dikontrol oleh kekuatan-kekuatan lingkungan tersebut.
Teori belajar sosial menempatkan “reciprocal determinism” sebagai prinsip dasar untuk menganalisis fenomena psikososial dalam berbagai tingkat yang kompleks, terentang dari perkembangan intrapersonal, tingkah laku interpersonal, fungsi interaksi organisasi sampai ke sistem sosial.
Determinisme timbal balik adalah teori yang ditetapkan oleh psikolog Albert Bandura bahwa perilaku seseorang baik pengaruh dan dipengaruhi oleh faktor pribadi dan lingkungan sosial. Bandura menerima kemungkinan perilaku individu yang dikondisikan melalui penggunaan konsekuensi. Pada saat yang sama ia menegaskan bahwa perilaku seseorang (dan faktor pribadi, seperti keterampilan atau sikap kognitif) dapat berdampak lingkungan.
keterampilan ini menetapkan hasil dalam ego bawah atau overcompensated bahwa, untuk semua tujuan kreatif terlalu kuat atau terlalu lemah untuk fokus pada hasil murni.
Sebagai contoh, determinisme timbal balik Bandura bisa terjadi ketika seorang anak bertingkah di sekolah. Anak tidak suka pergi ke sekolah, karena itu, ia bertindak di kelas. Hal ini menyebabkan guru dan administrator sekolah menyukai memiliki anak sekitar. Ketika dihadapkan dengan situasi, anak mengakui bahwa ia membenci sekolah dan rekan-rekan lain tidak seperti dia / nya. Hal ini menyebabkan anak bertindak tidak, memaksa administrator yang tidak suka memiliki dia  nya sekitar untuk menciptakan lingkungan yang lebih ketat bagi anak-anak bertubuh ini. Setiap faktor perilaku dan lingkungan bertepatan dengan anak dan sebagainya sehingga dalam pertempuran terus-menerus pada semua tiga tingkatan.
Dalam hal lain, Bandura menyetujui keyakinan dasar behaviorisme yang mempercayai bahwa kepribadian dibentuk melalui belajar.Namun dia berpendapat bahwa “conditioning” bukan proses yang mekanis, manusia menjadi partisipan yang pasif.

a.    Belajar Melalui Observasi (Observasional leraning)
Belajar  melalui observasi terjadi ketika respon organisme dipengaruhi oleh hasil observasinya terhadp orang lain, yang disebut model.Bentuk belajar ini memerlukan perhatian (attention) terhadap tingkah laku model yang diobservasi, sehingga dipahami dampak-dampaknya, dan menyimpan informasi tentang tingkah laku model itu ke dalam memori.
Beberapa model mungkin lebih berpengaruh dari model yang lainnya.Anak atau orang dewasa cenderung mengimitasi orang (model) yang dia senangi karena memiliki daya tarik tertentu.Proses imitasi ini dipengaruhi oleh adanya kesamaan antara yang mengimitasi dengan model (seperti kesamaan seks), atau karena tingkah laku model itu memberikan dampak yang positif.
Menurut teori belajar sosial, model itu memiliki dampak yang sangat besar terhadap perkembangan kepribadian anak-anak belajar untuk bersikap asertif, percaya diri, atau mandiri melalui observasi kepda orang lain yang menampilkan sikap-sikap seperti itu.Orang lain yang menjadi model anak adalah orang tua, saudara, guru, atau teman.Contohnya, seorang pelajar melihat temannya dipuji atau ditegur oleh gurunya kerena perbuatannya, maka ia kemudian meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya. Bandura mengidentifikasi tiga model dasar pembelajarn observasional:
1.    Model hidup, yang melibatkan seorang individu nyata mendemostrasikan sebuah perilaku.
2.    Model instruksional verbal, yang melibatkan deskripsi atau penjelasan dari sebuah perilaku
3.    Model simbolik, yang melibatkan karakter nyata atau fiksi menampilkan perilaku dalam buku-buku, film, program televisi, atau media online.
Bandura mengemukakan bahwa penguatan eksternal dan lingkungan bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi pembelajaran dan perilaku. Dia menggambarkan penguatan intrinsik sebagai bentuk penghargaan internal, seperti rasa bangga, puas, dan sensasi dari perolehan sebuah prestasi atau pencapaian. Penekanan pada pikiran internal dan kesadaran menjadi penghubung antara teori pembelajaran dan teori perkembangan kognitif.
Adanya vocarious reinforcement yaitu mengamati model untuk mendapat suatu tingkah laku positif, memberikan informasi bahwa tingkah laku tersebut dikehendaki dan akan mendorong pengamat untuk meniru, sedangkan negatif akan menimbulkan efek yang sebaliknnya
Selanjutnya, Bandura mengemukakan apa yang disebutnnya observer attributes yaitu kemampuan seseorang untuk mengikuti atau memperhatikan secara selektif serta pengalaman masa lalu dari orang tersebut yang akan mempengaruhi model mana yang mereka ikuti dan seefektif apa mereka mengikuti model tersebut.
Berikut beberapa-beberapa Jenis-Jenis Peniruan :
a.    Peniruan langsung
Pembelajaranan langsung dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran sosial dari Albert Bandura. Pembelajaranan langsung adalah model pembelajaranan yang dirancang untuk mengajarkan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang diajarkan setahap demi setahap. Ciri khas  pembelajaranan ini adalah adanya modeling, iaitu suatu fasa di mana seseorang memodelkan atau mencontohkan sesuatu melalui demonstrasi bagaimana suatu keterampilan itu dilakukan. Meniru tingkah laku yang ditunjukkan oleh model melalui proses perhatian. Contoh: meniru gaya penyanyi yang disanjungi.
b.    Peniruan tak langsung
Peniruan adalah melalui imaginasi atau pemerhatian secara tidak la ngsung. Contoh: meniru watak yang dibaca dalam buku, memerhati seorang guru mengajar rakannya.
c.    Peniruan gabungan.
Peniruan jenis ini adalah dengan cara menggabung tingkah laku yang berlainan yaitu peniruan langsung dan tidak langsung. Contoh: pelajar meniru gaya gurunya melukis dan cara mewarna daripada buku yang dibacanya.
d.   Peniruan sekat laluan
Tingkah laku yang ditiru hanya sesuai untuk situasi tertentu sahaja. contoh: Tiru fesyen pakaian di TV, tapi tidak boleh dipakai di sekolah.
e.    Peniruan tak sekat laluan
Tingkah laku yang ditiru boleh ditonjolkan dalam apa-apa situasi. Contoh: pelajar meniru gaya berbudi bahasa gurunya.




b.    Self Efficacy
Self efficacy merupakan kunci self system, yang dimaksud self system ini bukan faktor psikis yang mengontrol tingkah laku, namun merujuk kepada struktur kognisi yang memberikan mekanisme rujukan, dan yang merancang fungsi-fungsi persepsi, evaluasi, dan regulasi tingkah laku.
Bandura meyakini bahwa “self efficacy” merupakan keyakinan diri (sikap percaya diri) terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah laku yang akan mengarahkannya kepada hasil yang diharapkan.
Self efficacy merupakan kunci self system, yaitu harapan bahwa seseorang bisa, dengan usahanya sendiri, menguasai suatu situasi dan menyempurnakan hasil yang diinginkan. Atau dengan kata lain penilaian seseorang mengenai apa yang dapat ia lakukan.

Bandura memandang penting reinforcement dalam pembentukan perilaku pada proses social learning dan memperluas definisi reinforcement, meskipun reinforcement bukan satu-satunnya penentu timbulnnya perilaku. Bandura menambahkan dua jenis reinforcement lain. Yang pertama yaitu selfreinforcement yang akan muncul membanding perilakunya dengan standar internalnya. Yang ke dua yaitu vicarious reinforcement  yang akan muncul bila individu menyaksikan orang lain mengalami konsekuensi positif atau negatif dari perilakunya, dan individu tersebut mengantisipasi konsekuensi yang sama bila ia berprilaku sama. Orang dapat berprilaku tertentu hanya dengan mengamati (modelling) saja. Bahkan belajar melalui observasi ini jauh lebih evisien dibanding belajar melalui pengalaman langsung.




Persepsi tentang “self efficacy” bersifat subjektif dan khas terhadap macam-macam hal.Walaupun persepsi tentang “self efficacy” dapat memprediksi tingkah laku secara baik, namun persepsi tersebut dipengaruhi oleh perasaan umum dari  “self efficacy” sendiri.Dapat mempengaruhi tentang mana yang harus diatasi dan bagaimana menampilkan perilaku yang lebih baik.

B.  Implikasi Teori Kepribadian Behavioristik Terhadap Bimbingan Dan Konseling
a.  Tujuan bimbingan dan konseling
Tujuan umum bimbingan dan konseling behavioristik adalah menciptakan kondisi baru bagi proses belajar. Dasar alasannya adalah seluruh perilaku itu hasil belajar, termasuk perilaku yang salah sesuai hasil belajar, maka perilaku itu dapat dihapus dari ingatan dan dapat diperbaiki.
b.  Fungsi dan peran konselor
     Konselor behavioristik harus memainkan peran aktif dan direktif dalam proses bimbingan dan konseling.Konselor behavioristik berfungsi sebagai guru, pengarah, dan seorang ahli dalam mendiagnosis perilaku yang salah dan ahli dalam menentukan prosedur perbaikan yang diharapkan yang mengarah pada perilku baru yang sesuai.
     Satu peran penting lainnya adalah konselor sebagai model bagi klien, konselor sebagai pribadi menjadi model penting bagi klien, karena klien memandang konselor sebagai seorang yang patut diteladani, klien meniru pola pikir, cara bersikap, dan perilaku konselor.







C.      Kelemahan Dan Kelebihan Teori Albert Bandura
a.    Kelemahan
Teori pembelajaran social Albert bandura sangat sesuai jika diklsifikasikan dalam teori behavioristik. Ini karena, teknik pemodelan albert bandura adalah mengenai peniruan tingkah laku dan adakalanya cara peniruan tersebut memerlukan pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru.
Selain itu juga, jika manusia belajar atau membentuk tingkah lakunya dengan hanya. melalui peniruan (modeling), sudah pasti terdapat sesetengah individu yang menggunakan teknik peniruan ini juga akan meniru tingkah laku yang negatif termasuk perlakuan yang tidak diterima dalam masyarakat.
b.      Kelebihan
Teori Bandura lebih lengkap dibandingkan teori belajar sebelumnya karena itu menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui sistem kognitif orang tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata - mata refleks atas stimulus (S-R bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar