BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Keluarga merupakan salah satu faktor yang penting bagi
keberhasilan pendidikan anak, terutama mendidik perilaku beragama anak.
Keluarga juga mempunyai tanggung jawab dalam memberikan perhatian pada
perkembangan jiwa anak secara utuh.
Salah satu konsekuensinya adalah, bahwa dalam memberikan perhatian pada
perkembangan fisik anak, hendaklah disertai pertimbangan yang menjamin
perkembangan non fisik anak. Penyediaan makan semisal, anak-anak hendaklah
diberikan makanan yang baik-baik, tidak hanya dari sudut kesehatan, tetapi juga
dari sudut syari’ah.
Makanan yang baik dari sudut pandang kesehatan akan membantu pertumbuhan
dan perkembangan anak dalam bidang fisik, sedangkan makanan yang halal
diperlukan untuk menjamin perkembangan kepribadian dan jiwa.
pendidikan keluarga
adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau
unit social terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan
lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan
mengembangkanberbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan
pribadi,keluarga dan masyarakat.
B.
Perumusan
Masalah
Permasalahan yang akan di bahas adalah:
1.
Apa yang dimaksud pendidikan dan keluarga ?
2.
Apa saja pendidikan dalam keluarga?
3.
Apa saja pola asuh anak ?
4.
Sebutkan faktor yang mempengaruhi perilaku anak?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
pendidikan dan keluarga
Keluarga merupakan salah satu faktor yang penting bagi
keberhasilan pendidikan anak, terutama mendidik perilaku beragama anak.
Keluarga juga mempunyai tanggung jawab dalam memberikan perhatian pada
perkembangan jiwa anak secara utuh.
Salah satu konsekuensinya adalah, bahwa dalam
memberikan perhatian pada perkembangan fisik anak, hendaklah disertai
pertimbangan yang menjamin perkembangan non fisik anak. Penyediaan makan
semisal, anak-anak hendaklah diberikan makanan yang baik-baik, tidak hanya dari
sudut kesehatan, tetapi juga dari sudut syari’ah. Makanan yang baik dari sudut
pandang kesehatan akan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam bidang
fisik, sedangkan makanan yang halal diperlukan untuk menjamin perkembangan
kepribadian dan jiwa anak
Pendidikan menurut
etimologi berasal dari kata dasar didik. Apabila diberi awalan me- ,menjadi mendidik maka akan membentuk kata kerja
yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran).
Sedangkan bila berbentuk
kata benda akan menjadi pendidikanyang memiliki arti proses perubahan sikap dan
tingkah laku seseorangatau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upayapengajaran dan latihan.
Keluarga dalam bahasa Arab
adalah Al-Usroh yang berasal dari kata Al-asru yang secara etimologis
mampunyai arti ikatan Kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagai unit sosial terkecil
dalam masyarakat, atau suatu organisasi bio-psiko-sosio-spiritual
dimana anggota keluarga terkait dalam suatu ikatan khusus untuk hidup
bersama dalam ikatan perkawinan dan bukani katan yang sifatnya
statis dan membelenggu dengan saling menjaga keharmonisan hubungan
satu dengan yang lain atau hubungan silaturrahim. Sementara
satu . Al- Razi mengatakan Al-asru maknanya mengikat dengan tali, kemudian
meluas menjadi segalasesuatu yang diikat baik dengan tali atau yang lain.
Dari beberapa pengertian
di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan keluarga
adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau
unit sosial terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga
merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma
dan mengembangkanberbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan
pribadi,keluarga dan masyarakat.
B.
Pendidikan
dalam keluarga
Dalam
buku TheNational Studi on Family Strength,Nick dan De Frain mengemukakan
beberapa hal tentang pegangan menuju hubungan keluarga yang sehat dan bahagia, yaitu:
- Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga
- Tersedianya waktu untuk bersama keluarga
- Interaksi segitiga antara ayah, ibu dan anak
- Saling menghargai dalam interaksi ayah, ibu dan anak
- Keluarga menjadi prioritas utama dalam setiap situasi dan kondisi
Secara garis besar pendidikan dalam keluarga dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1.
Pembinaan Akidah dan
Akhlak
Mengingat keluarga dalam hal ini lebih dominan adalah seorang anak
dengan dasar-dasar keimanan, ke-Islaman, sejak mulai mengerti dan dapat
memahami sesuatu, maka al-Ghazali memberikan beberapa metode dalam
rangka menanamkan aqidah dan keimanan dengancara memberikan hafalan. Sebab kita
tahu bahwa proses pemahaman diawali dengan hafalan terlebih dahulu
(al-Fahmu Ba’d al-Hifdzi).
Ketika mau menghafalkan dan kemudian
memahaminya, akan tumbuh dalam dirinya sebuah keyakinan dan pada akhirnya
membenarkan apa yang diayakini. Inilah proses yang dialami anak pada umumnya.
Menurut
Muhammad Nur Hafidz
merumuskan empat pola dasar dalam membentuk akhlak :
1. Senantiasa membacakan
kalimat Tauhid pada anaknya.
2. Menanamkan kecintaan
kepada Allah dan Rasulnya.
3. Mengajarkan al-Qur’an
4. Menanamkan nilai-nilai pengorbanan dan
perjuangan.
Akhlak adalah
implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku, pendidikan dan
pembinaan akhlak anak.Keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari
orang tua.Perilaku sopan santun orang tua dalam pergaulan dan hubungan
antaraibu, bapak dan masyarakat.
Dalam hal ini Benjamin Spock menyatakan bahwa setiap individu
akan selalu mencari figur yang dapat dijadikanteladan ataupun idola bagi mereka.
2.
Pembinaan Intelektual
Pembinaan intelektual dalam keluarga merupakan peranan penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, baik intelektual,
spiritual maupun sosial. Karena manusia yang berkualitasakan mendapat derajat
yang tinggi di sisi Allah sebagaimana firman-Nya surat Al Mujahadah yang
artinya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu .
3. Pembinaan Kepribadian dan
Sosial
Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses
pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan
mulai pembentukan produksi serta reproduksi nalar tabiat jiwa dan
pengaruh yang melatarbelakanginya.
Mengingat hal ini sangat berkaitan
dengan pengetahuan yang bersifat menjaga emosional diri dan jiwa
seseorang. Dalam hal yang baik ini adanya Kewajiban orang tua untuk
menanamkan pentingnya memberi support kepribadian yang baik
bagi anak didik yang relative masih muda danbelum mengenal pentingnya arti
kehidupan berbuat baik, hal ini cocok dilakukan pada anak sejak
dini agar terbiasa berprilaku sopan santun dalam bersosial dengan
sesamanya. Untuk memulainya, orang tua bisadengan mengajarkan agar dapat
berbakti kepada orang tua agar kelak si anak dapat menghormati
orang yang lebih tua .
C. Pola Asuh orang tua
Keberhasilan keluarga dalam menanamkan
nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola
asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan
sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan
kebutuhan fisik (seperti makan, minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis
(seperti rasa aman, kasih sayang dan lain-lain), serta sosialisasi norma-norma
yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya.
Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam
rangka pendidikan anak.
Secara umum, Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis, yaitu :
(1) Pola asuh Authoritarian,
(2) Pola asuh Authoritative,
(3) Pola asuh permissive.
Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama
dengan jenis pola asuh menurut Hurlock
juga Hardy & Heyes yaitu:
(1) Pola asuh otoriter,
Yaitu mempunyai ciri orangtua membuat semua
keputusan, anak harus tunduk, patuh, dan tidak boleh bertanya.
(2) Pola asuh demokratis,
Yaitu mempunyai ciri orangtua mendorong anak
untuk membicarakan apa yang ia inginkan.
(3) Pola asuh permisif.
Yaitu mempunyai ciri orangtua memberikan
kebebasan penuh pada anak untuk berbuat.
Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh
orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut, yaitu sebagai
berikut:
Ø Pola asuh otoriter mempunyai ciri :
1. Kekuasaan orangtua dominan
2. Anak tidak diakui sebagai pribadi.
3. Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat
ketat.
4. Orangtua menghukum anak jika anak tidak patuh.
Ø Pola asuh demokratis mempunyai ciri :
1.
Ada kerjasama antara orangtua – anak.
2.
Anak diakui sebagai pribadi.
3.
Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua.
4.
Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku.
Ø Pola asuh permisif mempunyai ciri :
1. Dominasi pada anak.
2. Sikap longgar atau kebebasan dari
orangtua.
3. Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari
orangtua.
4. Kontrol dan perhatian orangtua sangat
kurang.
Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua, anak
belajar tentang banyak hal, termasuk karakter. Tentu saja pola asuh otoriter
(yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua)
dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak
untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang
cenderung mendorong anak untuk terbuka, namun bertanggung jawab dan mandiri)
terhadap hasil pendidikan karakter anak.
Artinya, jenis
pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan
keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga.
Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih
sayang, sentuhan, dan kelekatan emosi orangtua – anak sehingga antara orang tua
dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang
tua) dengan “si patuh” (anak). Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah,
1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan tingkat
kenakalan keluarga, di mana keluarga yang broken home, kurangnya kebersamaan
dan interaksi antar keluarga, dan orang tua yang otoriter cenderung
menghasilkan remaja yang bermasalah. Pada akhirnya, hal ini akan berpengaruh terhadap
kualitas karakter anak.
Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan
terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan
karakter anak. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk
mengenal mana yang baik mana yang salah. Dengan memberi kebebasan yang
berlebihan, apalagi terkesan membiarkan, akan membuat anak bingung dan
berpotensi salah arah.
Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam
pendidikan karakter anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang
dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih
mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab.
Sementara, orangtua yang otoriter merugikan, karena anak tidak mandiri, kurang
tanggungjawab serta agresif, sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak
kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah.
Menurut Arkoff (dalam Badingah, 1993), anak yang dididik
dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam
tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya
sementara saja. Di sisi lain, anak yang dididik secara otoriter atau ditolak
memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk
tindakan-tindakan merugikan. Sementara itu, anak yang dididik secara permisif
cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau
terang-terangan.
Menurut Middlebrook (dalam Badingah, 1993), hukuman fisik
yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk
tingkah laku anak karena :
a. Menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak
cocok untuk belajar)
b. Adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang
mendorong tingkah laku agresif
c. Akibat-akibat hukuman itu dapat meluas
sasarannya, misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu
ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada
d. Tingkah laku agresif orang tua menjadi model
bagi anak.
Hasil penelitian Rohner (dalam Megawangi, 2003)
menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi
perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan emosinya). Penelitian
tersebut – yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory)-
menunjukkan bahwa pola asuh orang tua, baik yang menerima (acceptance) atau
yang menolak (rejection) anaknya, akan mempengaruhi perkembangan emosi,
perilaku, sosial-kognitif, dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa
kelak.
Dalam hal ini, yang dimaksud dengan anak yang diterima
adalah anak yang diberikan kasih sayang, baik secara verbal (diberikan
kata-kata cinta dan kasih sayang, kata-kata yang membesarkan hati, dorongan,
dan pujian), maupun secara fisik (diberi ciuman, elusan di kepala, pelukan, dan
kontak mata yang mesra).
Sementara, anak yang ditolak adalah anak yang mendapat
perilaku agresif orang tua, baik secara verbal (kata-kata kasar, sindiran
negatif, bentakan, dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati), ataupun
secara fisik (memukul, mencubit, atau menampar).
Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat
indifeerence atau neglect, yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak
baik fisik maupun batin, atau bersifat undifferentiated rejection, yaitu sifat
penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat, tetapi anak merasa tidak dicintai
dan diterima oleh orang tua, walaupun orang tua tidak merasa demikian.
Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang
tua yang menerima membuat anak merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga,
dan diberi dukungan oleh orang tuanya. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung
pembentukan kepribadian yang pro-sosial, percaya diri, dan mandiri namun sangat
peduli dengan lingkungannya. Sementara itu, pola asuh yang menolak dapat
membuat anak merasa tidak diterima, tidak disayang, dikecilkan, bahkan dibenci
oleh orang tuanya. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan
menjadi pribadi yang tidak mandiri, atau kelihatan mandiri tetapi tidak
mempedulikan orang lain. Selain itu anak ini akan cepat tersinggung, dan
berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya, bersikap
sangat agresif kepada orang lain, atau merasa minder dan tidak merasa dirinya
berharga.
Dari paparan di atas jelas bahwa jenis pola asuh yang
diterapkan orang tua kepada anaknya sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak.
Kesalahan dalam pengasuhan anak akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan
karakter yang baik.
- Faktor yang mempengaruhi Perilaku anak
suatu perkembangan kepribadian dan jiwa anak yang baik, sangat berpengaruh
terhadap perilaku anak, terutama perilaku keberagamaan anak. Dalam hal ini,
akan diuraikan tanggung jawab keluarga dalam mendidik perilaku keberagamaan
anak yang menyangkut tentang amalan diniyah atau ibadah.
1.
Ibadah
2.
Puasa
3.
Berbakti
kepada orang tua
4.
Perilaku
keberagamaan remaja
Adapun mengenai faktor-faktor yang mampu untuk
mempengaruhi perilaku keberagamaan remaja (anak), disini akan dikemukakan
secara sederhana tentang faktor-faktor tersebut, yaitu:
a.
Faktor internal
Yaitu faktor-faktor yang terdapat didalam diri pribadi
manusia, faktor tersebut adalah:
Ø
Pengalaman
pribadi
Pengalaman pribadi merupakan
suatu hal yang sudah barang tentu pernah dialami oleh setiap manusia, bukan
hanya pernah dialami oleh manusia dewasa, akan tetapi anak-anak juga pernah
mengalaminya.
Menurut Zakiah darodjat, berpendapat tentang pengalaman pribadi anak,
yaitu; “sebelum anak masuk sekolah, telah banyak pengalaman yang diterimanya
dirumah, orang tua serta seluruh anggota keluarga, juga teman sebaya. Menurut
peneliti ahli ilmu jiwa, terbukti bahwa semua pengalaman yang dilalui orang
sejak lahir merupakan unsur-unsur dalam pribadinya.
Pengalaman pribadi yang
dimaksud yakni pengalaman beragama, karenanya perlu ditanamkan sedemikian rupa
pada diri manusia yakni sejak dalam kandungan. Hal ini penting, karena sangat mempengaruhi pada nantinya bagi
pembentukan suatu pribadi yang agamis.
Ø
Pengaruh Emosi
Dalam perilaku keberagamaan,
emosi mempunyai suatu pengaruh yang cukup besar. Menurut Zakiah Darodjat
mengemukakan pendapatnya bahwa sesungguhnya emosi memegang peranan yang penting
dalam sikap dan tindakan agama. Tidak ada satu sikap atau tindak agama
seseorang yang dapat dipahami, tanpa mengindahkan emosinya.
b. Faktor eksternal
Yaitu
faktor-faktor yang berasal bukan dari diri pribadi manusia, melainkan berasal
dari orang lain atau lingkungan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:
Ø Pengaruh orang tua
Pendidikan dilingkungan keluarga merupakanpeletakan
dasar bagi perkembangan anak untuk selanjutnya, baik dilingkungan sekolah
(pendidikan formal), maupun dilingkungan didalam masyarakat luas (pendidikan
non-formal).
Dalam keluarga, haruslah tercipta hubungan timbal balik dalam pendidikan, sebab mengingat bahwa
keluarga, dalam hal ini yaitu orang tua berperan penting dalam penetuan
keberhasilan anak-anaknya dan dapat juga orang tua bisa dijadikan suri tauladan
bagi anak-anaknya. Oleh karenanya, orang tua haruslah benar-benar
bersungguh-sungguh dalam mendidik anak, khususnya pendidikan agama, yang
pada akhirnya akan sangat berpengaruh sekali pada perilaku keberagamaan anak
tersebut.
Ø Pengaruh Guru
Guru merupakan orang pertama setelah orang tua yang
dapat mempengaruhi perilaku dan kepribadian anak, jadi faktor yang terpenting
bagi seorang guru adalah kepribadiannya.
Ø Pengaruh Teman Sebaya
Teman sebaya juga mempunyai pengaruh yang sangat
besar bagi anak, terutama pada usia remaja. Karena ingin diterima oleh
teman-teman, ia haruslah meniru lagak lagu, cara bicara, cara bergaul, sikap
dan perilaku teman-temannya dalam satu sikap dan perilaku teman-temannya dalam
satu kelompok.
Dengan demikian,orang tua
mempunyai peranan yang besar dalam mengatur dan mengarahkan pergaulan
anak-anaknya. Namun ketika orang tua telah memberikan bekal yang cukup kepada anak-anaknya tentang pendidikan agama, kiranya dengan pendidikan
agama tersebut dapat menjadi benteng pada diri anak dari
kemungkinan-kemungkinan negatif dari luar, terutama pengaruh dari teman sebaya
yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku, khususnya perilaku beragama anak.
Adapun hal-hal yang juga tidak kalah pentingnya, yaitu
tentang penanaman perilaku dari keberagamaan tersebut. Penanaman tersebut dapat
dilakukan melalui pendengaran, penglihatan dan perilaku. Penanaman ini tidak
langsung dapat dilakukan dengan secara singkat, akan tetapi melalui
proses dan juga membutuhkan waktu, serta membutuhkan beberapa metode-metode
yang tepat.
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pengertian
dari pendidikan keluarga adalahproses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unitsosial terkecil dalam masyarakat.
Sebabkeluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama
dalammenanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilakuyang
penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Kunci
keberhasilan pendidikan dalam keluargasebenarnya terletak pada pendidikan
rohani dengan artian keagamaan seseorang. Beberapa hal yang
memegang peranan penting dalam membentuk pandangan hidup seseorang meliputi
pembinaan akidah, akhlak, keilmuandan kreativitas yang mereka miliki.
DAFTAR PUSTAKA
Fuaddin TM, M.Ed,
Drs. Pengasuhan Anak dalam Keluarga Islam.Lembaga
kajian Agama dan Jender.Solidaritas Perempuan dan The Asia Foundation, tt,
Hasan Langgulung,
Prof. Manusia dan Pendidikan. Pustaka
Al Husna. Jakarta. 1996
Basuki, Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta.
Gunadarma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar