Sabtu, 27 April 2013

Makalah keluarga dan keberhasilan Prndidikan


                                                                            BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang
Keluarga merupakan salah satu faktor yang penting bagi keberhasilan pendidikan anak, terutama mendidik perilaku beragama anak. Keluarga juga mempunyai tanggung jawab dalam memberikan perhatian pada perkembangan jiwa anak secara utuh.
Salah satu konsekuensinya adalah, bahwa dalam memberikan perhatian pada perkembangan fisik anak, hendaklah disertai pertimbangan yang menjamin perkembangan non fisik anak. Penyediaan makan semisal, anak-anak hendaklah diberikan makanan yang baik-baik, tidak hanya dari sudut kesehatan, tetapi juga dari sudut syari’ah.
Makanan yang baik dari sudut pandang kesehatan akan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam bidang fisik, sedangkan makanan yang halal diperlukan untuk menjamin perkembangan kepribadian dan jiwa.
pendidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit social terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkanberbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan pribadi,keluarga dan masyarakat.

B.     Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan di bahas adalah:
1.      Apa yang dimaksud pendidikan dan keluarga  ?
2.      Apa saja pendidikan dalam keluarga?
3.      Apa saja pola asuh anak ?
4.      Sebutkan faktor yang mempengaruhi perilaku anak?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian pendidikan dan keluarga
Keluarga merupakan salah satu faktor yang penting bagi keberhasilan pendidikan anak, terutama mendidik perilaku beragama anak. Keluarga juga mempunyai tanggung jawab dalam memberikan perhatian pada perkembangan jiwa anak secara utuh.
Salah satu konsekuensinya adalah, bahwa dalam memberikan perhatian pada perkembangan fisik anak, hendaklah disertai pertimbangan yang menjamin perkembangan non fisik anak. Penyediaan makan semisal, anak-anak hendaklah diberikan makanan yang baik-baik, tidak hanya dari sudut kesehatan, tetapi juga dari sudut syari’ah. Makanan yang baik dari sudut pandang kesehatan akan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam bidang fisik, sedangkan makanan yang halal diperlukan untuk menjamin perkembangan kepribadian dan jiwa anak
Pendidikan menurut etimologi berasal dari kata dasar didik. Apabila diberi awalan me- ,menjadi mendidik maka akan membentuk kata kerja yang berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran).
Sedangkan bila berbentuk kata benda akan menjadi pendidikanyang memiliki arti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorangatau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upayapengajaran dan latihan.
Keluarga dalam bahasa Arab adalah Al-Usroh yang berasal dari kata Al-asru yang secara etimologis mampunyai arti ikatan Kata keluarga dapat diambil kefahaman sebagai unit sosial terkecil dalam masyarakat, atau suatu organisasi bio-psiko-sosio-spiritual dimana anggota keluarga terkait dalam suatu ikatan khusus untuk hidup bersama dalam ikatan perkawinan dan bukani katan yang sifatnya statis dan membelenggu dengan saling menjaga keharmonisan hubungan satu dengan yang lain atau hubungan silaturrahim. Sementara satu . Al- Razi mengatakan Al-asru maknanya mengikat dengan tali, kemudian meluas menjadi segalasesuatu yang diikat baik dengan tali atau yang lain.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pendidikan keluarga adalah proses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unit sosial terkecil dalam masyarakat. Sebab keluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalam menanamkan norma dan mengembangkanberbagai kebiasaan dan prilaku yang penting bagi kehidupan pribadi,keluarga dan masyarakat.

B.     Pendidikan dalam keluarga
Dalam buku TheNational Studi on Family Strength,Nick dan De Frain mengemukakan beberapa hal tentang pegangan menuju hubungan keluarga yang sehat dan bahagia, yaitu:
  1. Terciptanya kehidupan beragama dalam keluarga
  2. Tersedianya waktu untuk bersama keluarga
  3. Interaksi segitiga antara ayah, ibu dan anak
  4. Saling menghargai dalam interaksi ayah, ibu dan anak
  5. Keluarga menjadi prioritas utama dalam setiap situasi dan kondisi
Secara garis besar pendidikan dalam keluarga dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1.      Pembinaan Akidah dan Akhlak
Mengingat keluarga dalam hal ini lebih dominan adalah seorang anak dengan dasar-dasar keimanan, ke-Islaman, sejak mulai mengerti dan dapat memahami sesuatu, maka al-Ghazali memberikan beberapa metode dalam rangka menanamkan aqidah dan keimanan dengancara memberikan hafalan. Sebab kita tahu bahwa proses pemahaman diawali dengan hafalan terlebih dahulu (al-Fahmu Ba’d al-Hifdzi).
Ketika mau menghafalkan dan kemudian memahaminya, akan tumbuh dalam dirinya sebuah keyakinan dan pada akhirnya membenarkan apa yang diayakini. Inilah proses yang dialami anak pada umumnya.

Menurut Muhammad Nur Hafidz merumuskan empat pola dasar dalam membentuk akhlak :
1.      Senantiasa membacakan kalimat Tauhid pada anaknya.
2.      Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya.
3.      Mengajarkan al-Qur’an
4.      Menanamkan nilai-nilai pengorbanan dan perjuangan.
Akhlak adalah implementasi dari iman dalam segala bentuk perilaku, pendidikan dan pembinaan akhlak anak.Keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua.Perilaku sopan santun orang tua dalam pergaulan dan hubungan antaraibu, bapak dan masyarakat.
Dalam hal ini Benjamin Spock menyatakan bahwa setiap individu akan selalu mencari figur yang dapat dijadikanteladan ataupun idola bagi mereka.
2.      Pembinaan Intelektual
Pembinaan intelektual dalam keluarga merupakan peranan penting dalam upaya meningkatkan kualitas manusia, baik intelektual, spiritual maupun sosial. Karena manusia yang berkualitasakan mendapat derajat yang tinggi di sisi Allah sebagaimana firman-Nya surat Al Mujahadah yang artinya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu .
3.      Pembinaan Kepribadian dan Sosial
Pembentukan kepribadian terjadi melalui proses yang panjang. Proses pembentukan kepribadian ini akan menjadi lebih baik apabila dilakukan mulai pembentukan produksi serta reproduksi nalar tabiat jiwa dan pengaruh yang melatarbelakanginya.
Mengingat hal ini sangat berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat menjaga emosional diri dan jiwa seseorang. Dalam hal yang baik ini adanya Kewajiban orang tua untuk menanamkan pentingnya memberi support kepribadian yang baik bagi anak didik yang relative masih muda danbelum mengenal pentingnya arti kehidupan berbuat baik, hal ini cocok dilakukan pada anak sejak dini agar terbiasa berprilaku sopan santun dalam bersosial dengan sesamanya. Untuk memulainya, orang tua bisadengan mengajarkan agar dapat berbakti kepada orang tua agar kelak si anak dapat menghormati orang yang lebih tua .
C.    Pola Asuh orang tua
Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan (karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang diterapkan orang tua pada anaknya. Pola asuh dapat didefinisikan sebagai pola interaksi antara anak dengan orangtua yang meliputi pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum dan lain-lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang dan lain-lain), serta sosialisasi norma-norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungannya. Dengan kata lain, pola asuh juga meliputi pola interaksi orang tua dengan anak dalam rangka pendidikan  anak.

Secara umum, Baumrind mengkategorikan pola asuh menjadi tiga jenis, yaitu :
(1) Pola asuh Authoritarian,
(2) Pola asuh Authoritative,
(3) Pola asuh permissive.

Tiga jenis pola asuh Baumrind ini hampir sama dengan jenis pola asuh menurut Hurlock juga Hardy & Heyes yaitu:
(1)   Pola asuh otoriter,
Yaitu mempunyai ciri orangtua membuat semua keputusan, anak harus tunduk, patuh, dan tidak boleh bertanya.
(2)   Pola asuh demokratis,
Yaitu mempunyai ciri orangtua mendorong anak untuk membicarakan apa yang ia inginkan.
(3)   Pola asuh permisif.
Yaitu mempunyai ciri orangtua memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat.
Kita dapat mengetahui pola asuh apa yang diterapkan oleh orang tua dari ciri-ciri masing-masing pola asuh tersebut, yaitu sebagai berikut:
Ø  Pola asuh otoriter mempunyai ciri :
1.      Kekuasaan orangtua dominan
2.      Anak tidak diakui sebagai pribadi.
3.       Kontrol terhadap tingkah laku anak sangat ketat.
4.       Orangtua menghukum anak jika anak tidak patuh.

Ø  Pola asuh demokratis mempunyai ciri :
1.         Ada kerjasama antara orangtua – anak.
2.          Anak diakui sebagai pribadi.
3.         Ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua.
4.         Ada kontrol dari orangtua yang tidak kaku.

Ø  Pola asuh permisif mempunyai ciri :
1. Dominasi pada anak.
2. Sikap longgar atau kebebasan dari orangtua.
3. Tidak ada bimbingan dan pengarahan dari orangtua.
4. Kontrol dan perhatian orangtua sangat kurang.

Melalui pola asuh yang dilakukan oleh orang tua, anak belajar tentang banyak hal, termasuk karakter. Tentu saja pola asuh otoriter (yang cenderung menuntut anak untuk patuh terhadap segala keputusan orang tua) dan pola asuh permisif (yang cenderung memberikan kebebasan penuh pada anak untuk berbuat) sangat berbeda dampaknya dengan pola asuh demokratis (yang cenderung mendorong anak untuk terbuka, namun bertanggung jawab dan mandiri) terhadap hasil pendidikan karakter anak.
 Artinya, jenis pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya menentukan keberhasilan pendidikan karakter anak oleh keluarga.
Pola asuh otoriter cenderung membatasi perilaku kasih sayang, sentuhan, dan kelekatan emosi orangtua – anak sehingga antara orang tua dan anak seakan memiliki dinding pembatas yang memisahkan “si otoriter” (orang tua) dengan “si patuh” (anak). Studi yang dilakukan oleh Fagan (dalam Badingah, 1993) menunjukan bahwa ada keterkaitan antara faktor keluarga dan tingkat kenakalan keluarga, di mana keluarga yang broken home, kurangnya kebersamaan dan interaksi antar keluarga, dan orang tua yang otoriter cenderung menghasilkan remaja yang bermasalah. Pada akhirnya, hal ini akan berpengaruh terhadap kualitas karakter anak.
Pola asuh permisif yang cenderung memberi kebebesan terhadap anak untuk berbuat apa saja sangat tidak kondusif bagi pembentukan karakter anak. Bagaimana pun anak tetap memerlukan arahan dari orang tua untuk mengenal mana yang baik mana yang salah. Dengan memberi kebebasan yang berlebihan, apalagi terkesan membiarkan, akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah.
Pola asuh demokratis tampaknya lebih kondusif dalam pendidikan karakter anak. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Baumrind yang menunjukkan bahwa orangtua yang demokratis lebih mendukung perkembangan anak terutama dalam kemandirian dan tanggungjawab. Sementara, orangtua yang otoriter merugikan, karena anak tidak mandiri, kurang tanggungjawab serta agresif, sedangkan orangtua yang permisif mengakibatkan anak kurang mampu dalam menyesuaikan diri di luar rumah.
Menurut Arkoff (dalam Badingah, 1993), anak yang dididik dengan cara demokratis umumnya cenderung mengungkapkan agresivitasnya dalam tindakan-tindakan yang konstruktif atau dalam bentuk kebencian yang sifatnya sementara saja. Di sisi lain, anak yang dididik secara otoriter atau ditolak memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan agresivitasnya dalam bentuk tindakan-tindakan merugikan. Sementara itu, anak yang dididik secara permisif cenderung mengembangkan tingkah laku agresif secara terbuka atau terang-terangan.
Menurut Middlebrook (dalam Badingah, 1993), hukuman fisik yang umum diterapkan dalam pola asuh otoriter kurang efektif untuk membentuk tingkah laku anak karena :
a.       Menyebabkan marah dan frustasi (dan ini tidak cocok untuk belajar)
b.      Adanya perasaan-perasaan menyakitkan yang mendorong tingkah laku agresif
c.       Akibat-akibat hukuman itu dapat meluas sasarannya, misalnya anak menahan diri untuk memukul atau merusak pada waktu ada orangtua tetapi segera melakukan setelah orangtua tidak ada
d.      Tingkah laku agresif orang tua menjadi model bagi anak.
Hasil penelitian Rohner (dalam Megawangi, 2003) menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil seseorang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya (karakter atau kecerdasan emosinya). Penelitian tersebut – yang menggunakan teori PAR (Parental Acceptance-Rejection Theory)- menunjukkan bahwa pola asuh orang tua, baik yang menerima (acceptance) atau yang menolak (rejection) anaknya, akan mempengaruhi perkembangan emosi, perilaku, sosial-kognitif, dan kesehatan fungsi psikologisnya ketika dewasa kelak.
Dalam hal ini, yang dimaksud dengan anak yang diterima adalah anak yang diberikan kasih sayang, baik secara verbal (diberikan kata-kata cinta dan kasih sayang, kata-kata yang membesarkan hati, dorongan, dan pujian), maupun secara fisik (diberi ciuman, elusan di kepala, pelukan, dan kontak mata yang mesra).
Sementara, anak yang ditolak adalah anak yang mendapat perilaku agresif orang tua, baik secara verbal (kata-kata kasar, sindiran negatif, bentakan, dan kata-kata lainnya yang dapat mengecilkan hati), ataupun secara fisik (memukul, mencubit, atau menampar).
Sifat penolakan orang tua dapat juga bersifat indifeerence atau neglect, yaitu sifat yang tidak mepedulikan kebutuhan anak baik fisik maupun batin, atau bersifat undifferentiated rejection, yaitu sifat penolakan yang tidak terlalu tegas terlihat, tetapi anak merasa tidak dicintai dan diterima oleh orang tua, walaupun orang tua tidak merasa demikian.
Hasil penelitian Rohner menunjukkan bahwa pola asuh orang tua yang menerima membuat anak merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga, dan diberi dukungan oleh orang tuanya. Pola asuh ini sangat kondusif mendukung pembentukan kepribadian yang pro-sosial, percaya diri, dan mandiri namun sangat peduli dengan lingkungannya. Sementara itu, pola asuh yang menolak dapat membuat anak merasa tidak diterima, tidak disayang, dikecilkan, bahkan dibenci oleh orang tuanya. Anak-anak yang mengalami penolakan dari orang tuanya akan menjadi pribadi yang tidak mandiri, atau kelihatan mandiri tetapi tidak mempedulikan orang lain. Selain itu anak ini akan cepat tersinggung, dan berpandangan negatif terhadap orang lain dan terhadap kehidupannya, bersikap sangat agresif kepada orang lain, atau merasa minder dan tidak merasa dirinya berharga.
Dari paparan di atas jelas bahwa jenis pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak. Kesalahan dalam pengasuhan anak akan berakibat pada kegagalan dalam pembentukan karakter yang baik.  

  1. Faktor yang mempengaruhi Perilaku anak
suatu perkembangan kepribadian dan jiwa anak yang baik, sangat berpengaruh terhadap perilaku anak, terutama perilaku keberagamaan anak. Dalam hal ini, akan diuraikan tanggung jawab keluarga dalam mendidik perilaku keberagamaan anak yang menyangkut tentang amalan diniyah atau ibadah.
1.      Ibadah
2.      Puasa
3.      Berbakti kepada orang tua
4.      Perilaku keberagamaan remaja
Adapun mengenai faktor-faktor yang mampu untuk mempengaruhi perilaku keberagamaan remaja (anak), disini akan dikemukakan secara sederhana tentang faktor-faktor tersebut, yaitu:
a.      Faktor internal
Yaitu faktor-faktor yang terdapat didalam diri pribadi manusia, faktor tersebut adalah:
Ø  Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi merupakan suatu hal yang sudah barang tentu pernah dialami oleh setiap manusia, bukan hanya pernah dialami oleh manusia dewasa, akan tetapi anak-anak juga pernah mengalaminya.
Menurut Zakiah darodjat, berpendapat tentang pengalaman pribadi anak, yaitu; “sebelum anak masuk sekolah, telah banyak pengalaman yang diterimanya dirumah, orang tua serta seluruh anggota keluarga, juga teman sebaya. Menurut peneliti ahli ilmu jiwa, terbukti bahwa semua pengalaman yang dilalui orang sejak lahir merupakan unsur-unsur dalam pribadinya.
Pengalaman pribadi yang dimaksud yakni pengalaman beragama, karenanya perlu ditanamkan sedemikian rupa pada diri manusia yakni sejak dalam kandungan. Hal ini penting, karena sangat mempengaruhi pada  nantinya bagi pembentukan suatu pribadi yang agamis.
Ø  Pengaruh Emosi
Dalam perilaku keberagamaan, emosi mempunyai suatu pengaruh yang cukup besar. Menurut Zakiah Darodjat mengemukakan pendapatnya bahwa sesungguhnya emosi memegang peranan yang penting dalam sikap dan tindakan agama. Tidak ada satu sikap atau tindak agama seseorang yang dapat dipahami, tanpa mengindahkan emosinya.
b. Faktor eksternal
Yaitu faktor-faktor yang berasal bukan dari diri pribadi manusia, melainkan berasal dari orang lain atau lingkungan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:
Ø  Pengaruh orang tua
Pendidikan dilingkungan keluarga merupakanpeletakan dasar bagi perkembangan anak untuk selanjutnya, baik dilingkungan sekolah (pendidikan formal), maupun dilingkungan didalam masyarakat luas (pendidikan non-formal).
Dalam keluarga, haruslah tercipta hubungan timbal balik dalam pendidikan, sebab mengingat bahwa keluarga, dalam hal ini yaitu orang tua berperan penting dalam penetuan keberhasilan anak-anaknya dan dapat juga orang tua bisa dijadikan suri tauladan bagi anak-anaknya. Oleh karenanya, orang tua haruslah benar-benar bersungguh-sungguh dalam mendidik anak, khususnya pendidikan agama, yang pada akhirnya akan sangat berpengaruh sekali pada perilaku keberagamaan anak tersebut.

Ø  Pengaruh Guru
Guru merupakan orang pertama setelah orang tua yang dapat mempengaruhi perilaku dan kepribadian anak, jadi faktor yang terpenting bagi seorang guru adalah kepribadiannya.
Ø  Pengaruh Teman Sebaya
Teman sebaya juga mempunyai pengaruh  yang sangat besar bagi anak, terutama pada usia remaja. Karena ingin diterima oleh teman-teman, ia haruslah meniru lagak lagu, cara bicara, cara bergaul, sikap dan perilaku teman-temannya dalam satu sikap dan perilaku teman-temannya dalam satu kelompok.
Dengan demikian,orang tua mempunyai peranan yang besar dalam mengatur dan mengarahkan pergaulan anak-anaknya. Namun ketika orang tua telah memberikan bekal yang cukup  kepada anak-anaknya tentang pendidikan agama, kiranya dengan pendidikan agama tersebut dapat menjadi benteng pada diri anak dari kemungkinan-kemungkinan negatif dari luar, terutama pengaruh dari teman sebaya yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku, khususnya perilaku beragama anak.
Adapun hal-hal yang juga tidak kalah pentingnya, yaitu tentang penanaman perilaku dari keberagamaan tersebut. Penanaman tersebut dapat dilakukan melalui pendengaran, penglihatan dan perilaku. Penanaman ini tidak langsung dapat dilakukan  dengan secara singkat, akan tetapi melalui proses dan juga membutuhkan waktu, serta membutuhkan beberapa metode-metode yang tepat.








               BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Pengertian dari pendidikan keluarga adalahproses transformasi prilaku dan sikap di dalam kelompok atau unitsosial terkecil dalam masyarakat. Sebabkeluarga merupakan lingkungan budaya yang pertama dan utama dalammenanamkan norma dan mengembangkan berbagai kebiasaan dan prilakuyang penting bagi kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat.
Kunci keberhasilan pendidikan dalam keluargasebenarnya terletak pada pendidikan rohani dengan artian keagamaan seseorang. Beberapa hal yang memegang peranan penting dalam membentuk pandangan hidup seseorang meliputi pembinaan akidah, akhlak, keilmuandan kreativitas yang mereka miliki.





























DAFTAR PUSTAKA

Fuaddin TM, M.Ed, Drs. Pengasuhan Anak dalam Keluarga Islam.Lembaga kajian Agama dan Jender.Solidaritas Perempuan dan The Asia Foundation, tt,

Hasan Langgulung, Prof. Manusia dan Pendidikan. Pustaka Al Husna. Jakarta. 1996

Basuki, Heru. 2008. Psikologi Umum. Jakarta. Gunadarma


Tidak ada komentar:

Posting Komentar